JAKARTA, Interaksinews.id – Program Kementan yang dijalankan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menunjukkan dampak nyata di Papua. Dukungan datang bukan hanya dari para petani, tetapi juga masyarakat adat yang menilai pembangunan sektor pertanian telah membuka harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan di wilayah timur Indonesia.
Pengembangan sawah, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pendampingan penyuluh lapangan dinilai mengubah pola bertani masyarakat yang sebelumnya masih dilakukan secara tradisional.
Dukungan tersebut mengemuka dalam Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta. Sejumlah petani dari berbagai daerah di Tanah Papua hadir untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung.
Ketua Gapoktan Kampung Ketom Jaya, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Michael M. Kubuan, mengatakan program cetak sawah yang berlangsung di wilayahnya menghadirkan optimisme baru, terutama bagi masyarakat adat pemilik hak ulayat.
Saat ini, kawasan pertanian yang tengah dikembangkan di daerah tersebut mencapai 600 hektare.
“Hari ini saya ke Jakarta mendengarkan langsung dari Pak Menteri. Himbauan yang jelas dan tepat bahwa kita berikan perubahan untuk generasi kita. Mudah-mudahan dengan program yang akan menjadi sawah luas 600 hektare ini bisa membawa suatu perubahan bagi saya, anak-anak saya, cucu, dan keluarga saya yang ada di sekitar itu,” ujar Michael usai mengikuti konsolidasi bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Menurut Michael, keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan seluruh elemen masyarakat adat.
“Sebagai rekan keluarga adat pemilik hak ulayat, saya imbau untuk kita semua bergandengan tangan untuk bahu-membahu menyukseskan program ini di Kabupaten Sarmi.”
Alsintan Ubah Cara Bertani
Michael mengaku telah merasakan langsung manfaat bantuan alsintan dari pemerintah. Kehadiran teknologi pertanian modern membuat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga besar kini dapat diselesaikan lebih cepat dan efisien.
“Alat bantuan yang ada di wilayah kami sudah digunakan. Kami sendiri yang bawa dan kami duduk di atasnya, kami rasa suatu perubahan. Tadinya kami cangkul, kami coba babat dengan parang, tapi kami kalah. Hari ini kami bajak. Satu hari bisa sampai tiga hektare dengan satu alat bajak.”
Transformasi dari sistem manual menuju mekanisasi pertanian menjadi salah satu perubahan paling dirasakan petani Papua.
Jika sebelumnya pembukaan lahan dilakukan dengan alat sederhana, kini produktivitas meningkat seiring hadirnya dukungan pemerintah.
Masyarakat Lokal Papua Mulai Beralih Menjadi Petani Sawah
Dukungan serupa disampaikan Yance Homer, petani asal Kecamatan Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya.
Menurutnya, program cetak sawah membuka ruang keterlibatan masyarakat asli Papua dalam sistem pertanian modern.
“Kami orang Papua dulunya berkebun. Tapi karena dengan adanya program cetak sawah, maka kami beralih menjadi petani. Kami orang lokal, orang Papua juga ikut pertanian dan program ini sudah berjalan.”
Yance menegaskan lahan yang dimanfaatkan bukan kawasan hutan baru, melainkan lahan yang selama ini tidak produktif.
“Daripada menjadi lahan tidur, sekarang dimanfaatkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Ia berharap pemerintah terus memperkuat program melalui bantuan sarana produksi, pendampingan, dan dukungan teknis agar produktivitas pertanian semakin meningkat.
“Harapan kami bantuan yang tepat terus diberikan sehingga lahan yang direncanakan bisa berhasil. Yang penting masyarakat bisa menghasilkan pangan sendiri dan tidak perlu lagi mencari beras dari jauh.”
Yance juga menilai keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembangunan pertanian di Papua.
“Di situ ada didampingi dengan PPL, semua didampingi. Kami lokal sendiri juga ikut mengelola dan mengembangkan pertanian.”
Tak Hanya Beras, Pangan Lokal Juga Diperkuat
Program pertanian di Papua tidak semata berfokus pada peningkatan produksi padi. Pemerintah juga mendorong pengembangan berbagai komoditas unggulan yang telah menjadi bagian dari budaya dan sumber penghidupan masyarakat setempat.
Komoditas seperti sagu, kakao, kopi, pala, kelapa, ubi jalar, dan singkong terus diperkuat untuk mendukung ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Pendekatan ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi geografis Papua sekaligus mampu menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Dengan dukungan petani, masyarakat adat, pemerintah daerah, serta penyuluh pertanian, program yang dijalankan diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan kemandirian pangan dan kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat Papua.
Keberhasilan program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan bantuan alat. Keterlibatan masyarakat lokal, penghormatan terhadap hak ulayat, serta pendampingan yang konsisten merupakan fondasi penting agar transformasi pertanian benar-benar memberi manfaat jangka panjang.


















