Interaksinews.id, Jakarta — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memastikan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak seharusnya membebani para guru. Menurutnya, guru tetap harus fokus menjalankan tugas utama sebagai pendidik, sementara seluruh urusan teknis pembagian makanan telah menjadi tanggung jawab petugas khusus yang disiapkan di setiap sekolah.
Penegasan tersebut disampaikan menyusul munculnya keluhan sejumlah guru yang merasa pelaksanaan program MBG mengganggu proses belajar mengajar. Keluhan itu sebelumnya disampaikan dalam sidang uji materi Undang-Undang APBN 2026 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) di Mahkamah Konstitusi.
Sudaryono menegaskan pemerintah terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan program nasional tersebut berjalan efektif tanpa mengurangi kualitas pembelajaran di sekolah.
Makan Bergizi Gratis Dirancang agar Guru Tetap Fokus Mengajar
Sudaryono mengatakan BGN terus menjalin koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memastikan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Menurutnya, anggapan bahwa guru harus mengurus pembagian makanan maupun pengelolaan wadah makan atau ompreng merupakan pemahaman yang tidak sesuai dengan mekanisme pelaksanaan program.
“Kami terus koordinasi dengan Kementerian Dikdasmen. Ada anggapan bahwa seolah-olah guru itu terganggu jam belajar mengajarnya karena harus mengurusi ompreng, itu seharusnya tidak,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (7/8).
Ia menjelaskan bahwa setiap sekolah telah memiliki petugas penanggung jawab atau Person in Charge (PIC) yang memperoleh insentif dari BGN untuk membantu seluruh proses distribusi makanan bergizi kepada siswa.
Keberadaan petugas tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan guru tidak terbebani pekerjaan di luar tanggung jawabnya sebagai tenaga pendidik.
BGN Siapkan Dua PIC di Setiap Sekolah
Sudaryono mengungkapkan setiap sekolah telah memiliki dua orang PIC yang bertugas mengatur distribusi makanan ke seluruh kelas.
Petugas tersebut bertanggung jawab mulai dari proses penerimaan makanan hingga memastikan makanan diterima oleh siswa sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
“Di setiap sekolah ada PIC yang kemudian ada insentif dari kami untuk membantu proses distribusi Makan Bergizi Gratis ini di kelas-kelas. Ada PIC-nya dua orang,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, guru tidak lagi harus menangani pembagian makanan maupun mengumpulkan kembali wadah makan setelah siswa selesai makan.
BGN berharap pembagian tugas yang jelas dapat membuat pelaksanaan program berjalan lebih efektif sekaligus menjaga kualitas kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Makan Bergizi Gratis Tetap Membutuhkan Peran Guru
Meski tidak terlibat dalam distribusi makanan, guru tetap memiliki peran penting dalam keberhasilan Makan Bergizi Gratis.
Peran tersebut lebih berfokus pada pendampingan, pembentukan kebiasaan hidup sehat, dan edukasi kepada peserta didik selama kegiatan makan bersama berlangsung.
Sudaryono menjelaskan guru diharapkan memberikan contoh sekaligus mengawasi siswa agar mengikuti tata cara makan yang baik.
Beberapa hal yang menjadi perhatian guru antara lain:
- Memastikan siswa mencuci tangan sebelum makan.
- Mengarahkan siswa mengantre dengan tertib.
- Membimbing siswa berdoa sebelum makan.
- Menjelaskan pentingnya kandungan gizi dalam makanan.
- Mengingatkan siswa menghabiskan makanan dengan baik.
“Guru ini tugas tambahannya adalah ikut menyertai makan bersama murid-muridnya dalam rangka edukasi kepada siswa di kelas. Sudah cuci tangankah, antre mengambil ompreng, duduk, berdoa, makan dengan baik, dijelaskan kandungan gizinya, termasuk dimakan sebelum jam berapanya,” ujar Sudaryono.
Menurutnya, pendampingan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus pembiasaan pola hidup sehat di lingkungan sekolah.
BGN Ingatkan Siswa Tidak Membawa Pulang Makanan
Selain memberikan edukasi selama makan berlangsung, guru juga diminta mengingatkan siswa agar makanan MBG tidak dibawa pulang.
Sudaryono menjelaskan makanan yang disimpan terlalu lama berpotensi mengalami penurunan kualitas sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan ketika dikonsumsi.
“Manakala nanti ada yang membawa pulang maka kita beri anjuran jangan dibawa pulang, takutnya menjadi penyebab kasus keracunan,” katanya.
BGN masih menemukan sejumlah laporan mengenai siswa yang membawa pulang makanan, kemudian mengonsumsinya beberapa jam setelah pembagian selesai.
Dalam kondisi tersebut, kualitas makanan bisa berubah sehingga meningkatkan risiko keluhan kesehatan.
Sudaryono menjelaskan bahwa kejadian seperti itu sering memunculkan persepsi seolah-olah program MBG menjadi penyebab utama gangguan kesehatan, padahal makanan telah dikonsumsi di luar waktu yang dianjurkan.
“Di banyak tempat misalnya ada yang membawa pulang. Karena dimakan di rumah sudah rusak, kemudian sakit perut misalnya, lalu berobat ke puskesmas. Setelah itu cerita ke temannya, akhirnya ramai-ramai datang ke puskesmas untuk mengecek apakah keracunan atau tidak. Sehingga kelihatannya yang datang ke puskesmas itu banyak,” jelasnya.
Karena itu, BGN terus meningkatkan sosialisasi kepada sekolah agar makanan bergizi gratis dikonsumsi langsung setelah dibagikan sehingga kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
Evaluasi Program Terus Dilakukan
BGN menegaskan seluruh masukan dari tenaga pendidik akan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan pelaksanaan program MBG di berbagai daerah.
Koordinasi dengan Kemendikdasmen juga terus dilakukan agar pembagian peran antara guru dan petugas distribusi semakin jelas.
Dengan mekanisme tersebut, pemerintah berharap tujuan utama program dapat tercapai, yaitu meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik tanpa mengurangi efektivitas kegiatan belajar mengajar.
Program ini juga diharapkan mampu membangun kebiasaan makan sehat sejak dini melalui pendampingan guru dan dukungan petugas yang telah disiapkan di setiap sekolah. (MS Journal)

















