Sumber Berita
NasionalBencanaPeristiwa

Update Korban Gempa NTT 2026: 87 Orang Meninggal, 1.298 Terluka

Interaksinews.id, Nusa Tenggara TimurGempa NTT 2026 kembali memperlihatkan dampak besar terhadap masyarakat di sejumlah kabupaten. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal mencapai 87 orang, sedangkan 1.298 warga mengalami luka-luka.

Data tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers pada Sabtu (22/8/2026).

“Hari ini secara kumulatif jumlah yang meninggal ada 87 jiwa,” kata Berton.

Menurut data BNPB, korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban meninggal terbanyak dengan 31 orang.

Selanjutnya, Manggarai Timur mencatat 30 korban meninggal. Sementara itu, Nagekeo mencatat 13 korban meninggal dan Sikka sembilan orang.

Korban meninggal lainnya tercatat di Ngada sebanyak empat orang. Ende mencatat dua orang, sedangkan Manggarai Barat satu orang.

Korban Gempa NTT 2026 Tersebar di Sejumlah Kabupaten

Besarnya dampak gempa terlihat dari sebaran korban di berbagai wilayah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana tidak hanya berdampak pada satu daerah.

BNPB mencatat 1.298 orang mengalami luka-luka akibat gempa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 336 orang mengalami luka berat.

Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak. BNPB mencatat sebanyak 643 orang mengalami luka akibat bencana di wilayah tersebut.

Kabupaten Manggarai kemudian berada di posisi berikutnya dengan 285 korban luka.

“Jumlah orang-orang yang luka atau korban yang luka ada mencapai 1.298 jiwa, di mana yang luka berat sebanyak 336,” ujar Berton.

Data korban tersebut masih menjadi bagian dari penanganan darurat. Petugas di lapangan terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap masyarakat terdampak.

Selain korban jiwa dan luka, gempa juga mendorong peningkatan jumlah warga yang harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Ribuan keluarga kini membutuhkan tempat aman serta dukungan selama masa tanggap darurat.

Pengungsi Gempa NTT Mencapai 150.576 Orang

Dampak lain yang menjadi perhatian dalam gempa NTT 2026 adalah meningkatnya jumlah pengungsi. BNPB mencatat 150.576 orang telah mengungsi akibat bencana tersebut.

Jumlah itu meningkat dibandingkan data sebelumnya yang berada di kisaran 130 ribu orang. Peningkatan tersebut terjadi seiring masih berlangsungnya gempa susulan.

Tiga kabupaten mencatat jumlah pengungsi terbesar. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi paling banyak.

BNPB mencatat 41.427 warga Manggarai mengungsi. Berikutnya, Kabupaten Nagekeo mencatat 34.256 pengungsi.

Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur mencatat 31.372 warga yang mengungsi.

“Pengungsi juga bertambah dari angka yang kemarin 130-an ribu, sekarang sudah mencapai 150.576 jiwa,” jelas Berton.

Meningkatnya jumlah pengungsi membuat kebutuhan penanganan darurat ikut bertambah. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Kebutuhan tersebut antara lain mencakup tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan.

Penanganan pengungsi menjadi bagian penting dalam respons bencana, terutama ketika gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah.

Gempa Susulan NTT Masih Terjadi

Selain korban dan pengungsi, aktivitas gempa susulan menjadi perhatian utama BNPB. Hingga Sabtu (22/8/2026), tercatat 5.012 kali gempa susulan terjadi di Nusa Tenggara Timur.

Gempa susulan tersebut memiliki kekuatan yang bervariasi. BNPB mencatat magnitudo terbesar mencapai 6,2.

Sementara itu, gempa susulan dengan kekuatan terkecil tercatat memiliki magnitudo 1,1.

Gempa Susulan NTT Capai 5.012 Kali

Dari ribuan aktivitas gempa tersebut, sebanyak 124 kali gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

“Hingga saat ini gempa susulan masih sering terjadi dan hari ini kami mendapatkan jumlah gempa susulan sebanyak 5.012 kali,” tutur Berton.

Ia menjelaskan bahwa magnitudo gempa susulan terbesar mencapai 6,2. Adapun gempa susulan terkecil tercatat dengan magnitudo 1,1.

“Gempa susulan yang dirasakan warga sebanyak 124 kali,” lanjutnya.

Aktivitas gempa susulan membuat masyarakat perlu tetap meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, sebagian warga masih berada di lokasi pengungsian dan menghadapi kondisi darurat.

Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan petugas kebencanaan. Informasi tersebut penting untuk menghindari kepanikan sekaligus memastikan warga memperoleh arahan yang tepat.

BNPB Terus Memantau Dampak Gempa

Data BNPB menunjukkan skala dampak gempa NTT 2026 masih cukup besar. Sebanyak 87 orang meninggal, 1.298 orang terluka, dan 150.576 orang mengungsi.

Pada saat yang sama, ribuan gempa susulan masih tercatat di wilayah Nusa Tenggara Timur. Kondisi tersebut membuat proses penanganan bencana membutuhkan koordinasi yang berkelanjutan.

Pendataan korban juga menjadi bagian penting dalam respons darurat. Data yang terus diperbarui membantu pemerintah menentukan kebutuhan penanganan di setiap wilayah terdampak.

Masyarakat terdampak juga membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan. Terutama bagi 336 korban yang mengalami luka berat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Di sisi lain, tingginya jumlah pengungsi menuntut distribusi bantuan yang cepat dan tepat sasaran. Pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan kebutuhan dasar warga tetap tersedia.

Situasi gempa NTT 2026 masih berkembang seiring aktivitas gempa susulan yang terus berlangsung. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang. (MS Journal)


Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan keterangan yang diterima redaksi. Setiap informasi telah disajikan secara proporsional untuk memberikan konteks kepada pembaca. Redaksi terbuka terhadap koreksi atau informasi tambahan apabila terdapat data yang perlu diperbarui.

Berita Terkait