Nasional

Harga Komoditas Pertanian Dunia Tertinggi dalam Tiga Tahun, Konflik Global Picu Ancaman Krisis Pangan

Interaksinews.id, JakartaHarga komoditas pertanian dunia melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi gangguan rantai pasok pangan, konflik geopolitik, cuaca ekstrem, serta terganggunya distribusi pupuk dunia. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga pangan yang dapat dirasakan masyarakat di berbagai negara dalam beberapa waktu mendatang.

Berbagai lembaga internasional menilai situasi saat ini tidak hanya berdampak pada perdagangan komoditas, tetapi juga berpotensi memperburuk ketahanan pangan global. Negara berkembang menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut karena ketergantungan terhadap impor pangan maupun pupuk.

Harga Komoditas Pertanian Dunia Dipicu Krisis Pupuk Global

Lembaga riset International Food Policy Research Institute (IFPRI) menilai kondisi saat ini sebagai “krisis input” dalam rantai pasok pupuk yang berpotensi berkembang menjadi krisis pangan apabila berlangsung dalam waktu lama.

Menurut IFPRI, pupuk sintetis merupakan produk berbasis minyak bumi sehingga harga dan distribusinya sangat dipengaruhi oleh gejolak harga energi maupun kondisi geopolitik.

Gangguan terbesar terjadi setelah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dan pupuk dunia. Kawasan Timur Tengah selama ini memasok sekitar sepertiga kebutuhan impor urea global.

Akibat penutupan jalur pelayaran tersebut, sekitar 3,9 juta ton ekspor pupuk urea dari kawasan Timur Tengah mengalami hambatan distribusi. Dampaknya langsung terasa terhadap pasar pupuk internasional yang sempat mengalami lonjakan harga.

Meski harga pupuk belakangan relatif stabil, IFPRI mengingatkan bahwa kondisi tersebut masih sangat rentan berubah apabila konflik terus berlanjut.

“Sebagian besar fasilitas produksi di kawasan tersebut masih beroperasi dengan kapasitas yang dikurangi untuk mencegah penumpukan stok yang berlebihan,” tulis IFPRI.

Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa penyimpanan urea dalam jangka panjang memiliki keterbatasan karena suhu tinggi dan kelembapan dapat menurunkan kualitas pupuk.

IFPRI menambahkan, “Risiko kekurangan pasokan pupuk dalam jumlah besar terus meningkat seiring konflik yang berkepanjangan dan Selat Hormuz yang masih ditutup.”

Konflik Laut Hitam Ganggu Pasokan Pangan Dunia

Selain persoalan pupuk, tekanan terhadap harga komoditas pertanian dunia juga dipicu kembali memanasnya konflik di kawasan Laut Hitam.

Pelabuhan-pelabuhan Ukraina merupakan jalur utama ekspor berbagai komoditas pertanian seperti:

  • Gandum
  • Jagung
  • Barley
  • Meslin

Gangguan terhadap aktivitas ekspor menyebabkan pasokan komoditas tersebut ke pasar internasional kembali berkurang.

Produksi dan ekspor pertanian Ukraina juga masih belum pulih sepenuhnya dibandingkan kondisi sebelum pecahnya konflik bersenjata beberapa tahun lalu.

Sebagai salah satu produsen pangan utama dunia, berkurangnya ekspor Ukraina memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas harga pangan global.

Negara-negara yang selama ini bergantung pada impor gandum dan jagung dari kawasan tersebut diperkirakan menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi.

PBB Peringatkan Risiko Bertambahnya Kelaparan Dunia

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa lonjakan harga energi dan pupuk akibat berbagai konflik global berpotensi meningkatkan jumlah penduduk yang mengalami kelaparan.

PBB memperkirakan sekitar 9 juta hingga 18 juta orang dapat terdampak apabila tekanan terhadap harga pangan terus berlangsung.

Selain itu, biaya memperoleh pola makan sehat juga meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Data PBB menunjukkan rata-rata biaya pola makan sehat naik hampir 25 persen sejak 2021.

Biaya tersebut meningkat dari sekitar 3,44 dolar AS PPP menjadi 4,28 dolar AS PPP per orang per hari.

Amerika Latin dan Karibia tercatat sebagai kawasan dengan biaya pangan sehat tertinggi, yakni sekitar 4,91 dolar AS PPP per orang per hari.

Kenaikan tersebut menjadi indikator bahwa tekanan terhadap sistem pangan global tidak hanya dirasakan oleh negara miskin, tetapi juga memengaruhi banyak kawasan di dunia.

Harga Komoditas Pertanian Dunia Masih Berpotensi Berfluktuasi

Para ahli menilai pasar pangan dunia masih menghadapi ketidakpastian tinggi.

Selain konflik geopolitik, perubahan iklim juga memperbesar risiko gagal panen akibat gelombang panas, kekeringan, maupun cuaca ekstrem di berbagai wilayah produksi.

Presiden International Fund for Agricultural Development (IFAD), Alvaro Lario, mengatakan dunia sedang menghadapi peningkatan jumlah konflik yang berdampak langsung terhadap sektor pangan.

“Kita berada pada era dengan jumlah konflik tertinggi dan masih terus meningkat. Setiap kali terjadi konflik, kelaparan, pengungsian, dan jumlah pengungsi juga meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Qu Dongyu, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan pangan memerlukan dukungan politik yang kuat.

“Mengakhiri kelaparan dan membuat pola makan sehat menjadi terjangkau memerlukan komitmen politik, investasi berkelanjutan, dan kebijakan yang mendukung,” katanya.

Dongyu juga menilai berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir menjadi pelajaran penting bagi dunia untuk memperkuat sistem pangan global.

Menurutnya, pandemi Covid-19, konflik bersenjata, perubahan iklim, hingga gangguan distribusi energi dan pupuk menunjukkan bahwa sistem pangan dunia harus dibangun lebih tangguh agar mampu melindungi petani, produsen, serta masyarakat yang paling rentan.

Harga komoditas pertanian dunia diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif selama konflik geopolitik, gangguan rantai pasok pupuk, serta perubahan iklim belum mereda. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi ketahanan pangan global karena dapat mendorong kenaikan harga pangan di berbagai negara. Oleh karena itu, penguatan kerja sama internasional, investasi pada sektor pertanian, dan kebijakan yang mendukung produksi pangan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko krisis pangan di masa mendatang.


Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan keterangan yang diterima redaksi. Setiap informasi telah disajikan secara proporsional untuk memberikan konteks kepada pembaca. Redaksi terbuka terhadap koreksi atau informasi tambahan apabila terdapat data yang perlu diperbarui.

Berita Terkait