Interaksinews.id, Pandeglang — Barang temuan Selat Sunda yang ditemukan tim SAR gabungan saat mencari lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kembali diperiksa. Polda Banten memastikan sejumlah barang yang ditemukan pada pencarian hari kelima bukan berasal dari KM Arupadhatu 1 yang membawa rombongan tersebut.
Pemeriksaan dilakukan setelah tim SAR menemukan sejumlah benda di perairan Selat Sunda pada Sabtu (12/9/2026). Temuan tersebut kemudian diserahkan untuk diperiksa dan dikonfirmasi kepada pemilik kapal guna memastikan keterkaitannya dengan rombongan yang masih dalam pencarian.
Hingga Minggu (13/9/2026), operasi SAR masih berlangsung. Tim gabungan memperluas area pencarian kapal Arupadhatu 1 menjadi enam sektor dengan total luas sekitar 6.010 nautical mile persegi, terdiri atas lima sektor laut dan satu sektor udara.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea mengatakan pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah barang yang ditemukan kapal KN SAR Tetuka di sekitar perairan Selat Sunda sebelah timur Pulau Rakata.
Dari pemeriksaan tersebut, dua life jacket berwarna oranye dengan tulisan “MILLES II” dipastikan bukan perlengkapan keselamatan milik KM Arupadhatu 1.
“Setelah dilakukan pemeriksaan dan konfirmasi dari pemilik kapal KM Arupadhatu 1, dua life jacket berwarna oranye bertuliskan ‘MILLES II’ dinyatakan bukan milik kapal,” kata Maruli kepada wartawan, Minggu (13/9/2026).
Menurut keterangan pihak kapal, life jacket yang tersedia di KM Arupadhatu 1 memiliki warna merah, kuning, dan ungu. Perlengkapan tersebut juga tidak memiliki tulisan “MILLES II”.
Perbedaan ciri tersebut menjadi salah satu dasar untuk memastikan bahwa pelampung yang ditemukan tidak berkaitan dengan kapal yang sedang dicari.
Jeriken dan Helm Juga Bukan Milik KM Arupadhatu 1
Selain dua life jacket, tim SAR juga menemukan sebuah jeriken dan satu helm plastik berwarna merah dalam penyisiran pada hari kelima.
Polda Banten menyatakan jeriken tersebut juga tidak sesuai dengan perlengkapan yang dimiliki KM Arupadhatu 1.
Jeriken milik kapal disebut berwarna biru pudar dengan kapasitas 30 liter. Bentuknya pendek, menggunakan tutup putih, serta tidak memiliki tulisan atau penanda khusus.
Sementara itu, jeriken yang ditemukan tim SAR berwarna biru tua dengan kapasitas sekitar 35 liter. Bentuknya lebih panjang, menggunakan tutup hitam, dan memiliki tulisan pada bagian permukaannya.
Perbedaan karakteristik tersebut membuat barang tersebut dinyatakan bukan bagian dari perlengkapan KM Arupadhatu 1.
Pemeriksaan serupa juga dilakukan terhadap helm plastik berwarna merah yang ditemukan dalam operasi pencarian. Pihak kapal menyatakan tidak menyediakan fasilitas berupa helm jenis tersebut di atas kapal.
“Adapun satu buah helm plastik berwarna merah juga dinyatakan bukan milik KM Arupadhatu 1 karena kapal tersebut tidak memiliki maupun menyediakan helm jenis tersebut di atas kapal,” ujar Maruli.
Dengan demikian, sejumlah barang temuan Selat Sunda yang ditemukan pada pencarian hari kelima belum memberikan petunjuk langsung mengenai keberadaan KM Arupadhatu 1.
Lima jurnalis dan tiga kru KM Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026). Rombongan tersebut sebelumnya berada di kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik.
Tim SAR gabungan kemudian melakukan penyisiran melalui jalur laut dan udara. Operasi diperluas seiring belum ditemukannya kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Pada hari keenam pencarian, Minggu (13/9/2026), sektor selatan Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam operasi. Tim SAR mengerahkan sejumlah kapal untuk menyisir area yang telah ditentukan berdasarkan evaluasi terhadap temuan pada operasi sebelumnya.
Temuan barang pada Sabtu (12/9/2026) turut menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah pencarian berikutnya. Namun, karena barang-barang tersebut telah dinyatakan bukan milik Arupadhatu 1, keberadaannya belum dapat digunakan untuk memastikan posisi kapal yang hilang.
Situasi tersebut membuat pencarian tetap diarahkan pada penyisiran area laut yang luas. Tim gabungan juga menggunakan dukungan udara untuk memperbesar cakupan pencarian.
Hilangnya rombongan terjadi ketika mereka menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi perairan dan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut menjadi bagian dari situasi yang harus diperhitungkan selama operasi pencarian.
Operasi SAR kini memasuki tahap lanjutan dengan pembagian wilayah pencarian secara lebih terstruktur. Tim gabungan terus melakukan penyisiran sambil mengevaluasi setiap temuan yang muncul di lapangan.
Bagi keluarga dan rekan-rekan para jurnalis serta kru kapal, keberlanjutan operasi menjadi harapan untuk mendapatkan kepastian mengenai keberadaan delapan orang tersebut.
Polda Banten dan tim SAR gabungan masih melakukan penelusuran terhadap berbagai informasi dan temuan yang dapat membantu pencarian. Setiap benda yang ditemukan diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan apakah memiliki keterkaitan dengan KM Arupadhatu 1.
Hingga Minggu (13/9/2026), belum ada keterangan bahwa barang-barang yang ditemukan pada hari kelima merupakan milik rombongan. Karena itu, pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal tetap dilanjutkan dengan memperluas wilayah penyisiran di perairan Selat Sunda.
(MS Journal)

















