Interaksinews.id, Jakarta — Harga Daging Global diproyeksikan tetap berada pada level tinggi sepanjang 2026. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menilai kombinasi antara tingginya permintaan impor, keterbatasan pasokan dari negara eksportir utama, wabah penyakit hewan, hingga ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga di pasar internasional.
Laporan Food Outlook edisi Juni 2026 yang dirilis FAO menunjukkan bahwa pasar daging dunia masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Kondisi tersebut membuat peluang penurunan harga dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas.
Berdasarkan Indeks Harga Daging FAO, rata-rata harga daging dunia mencapai 130,5 poin pada Mei 2026. Angka tersebut meningkat 4,5 persen dibandingkan Januari 2026 dan naik 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi ketika pertumbuhan produksi daging global masih bergerak lambat. Sepanjang tahun ini, produksi daging dunia diperkirakan hanya tumbuh sekitar 1 persen secara tahunan menjadi 391 juta ton.
“Kebijakan perdagangan yang terus berubah ikut memicu tingginya volatilitas pasar, yang pada akhirnya memperkuat tren kenaikan harga daging di tingkat global,” tulis FAO dalam laporannya.
Harga Daging Global Tertekan oleh Permintaan Impor yang Tinggi
Permintaan internasional yang kuat menjadi salah satu faktor utama yang menopang kenaikan harga di berbagai jenis komoditas daging.
FAO mencatat negara-negara pengimpor besar masih aktif meningkatkan pembelian untuk memenuhi kebutuhan domestik mereka. Kondisi ini terjadi di tengah pasokan yang belum sepenuhnya pulih dari berbagai gangguan produksi.
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang masih membutuhkan pasokan daging sapi dari luar negeri. Pemulihan populasi ternak yang berlangsung secara bertahap membuat stok sapi siap potong di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan pasar.
Di sisi lain, China juga meningkatkan impor daging dalam jumlah besar. Permintaan yang tinggi muncul setelah kuota impor dalam skema safeguard baru terisi lebih cepat dibandingkan perkiraan.
Menurut FAO, kombinasi permintaan dari dua pasar besar tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga di pasar internasional.
“Permintaan internasional yang terus ada ikut memberikan tekanan kenaikan harga lebih lanjut, terutama dari Amerika Serikat di tengah ketatnya pasokan dalam negeri mereka, serta dari China,” jelas FAO.
Harga Daging Sapi Menjadi Penyumbang Kenaikan Terbesar
Dari seluruh komoditas daging, harga daging sapi menjadi salah satu yang mengalami kenaikan paling signifikan sepanjang awal 2026.
FAO mencatat harga daging sapi global naik sekitar 5,8 persen dalam periode Januari hingga Mei 2026. Kenaikan ini dipicu oleh menurunnya ketersediaan sapi siap potong di Brasil yang merupakan salah satu eksportir terbesar dunia.
Ketika pasokan dari Brasil menurun, harga ekspor ikut meningkat. Situasi tersebut kemudian berdampak pada harga di pasar internasional karena banyak negara masih bergantung pada pasokan dari kawasan Amerika Selatan.
Selain faktor pasokan, tingginya kebutuhan impor dari berbagai negara turut memperkuat tren kenaikan harga.
Beberapa faktor yang mendorong harga daging sapi naik antara lain:
- Berkurangnya stok sapi siap potong di Brasil.
- Permintaan impor yang tetap kuat dari Amerika Serikat.
- Peningkatan pembelian oleh China.
- Pertumbuhan produksi global yang relatif lambat.
- Ketidakpastian perdagangan internasional.
Kondisi ini membuat pelaku industri memperkirakan harga daging sapi masih berpotensi bertahan pada level tinggi hingga akhir tahun.
Tantangan Harga Daging Global pada Komoditas Lain
Tidak hanya daging sapi, sejumlah jenis daging lainnya juga mengalami kenaikan harga meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda.
Harga daging babi tercatat meningkat sekitar 5,2 persen. Sementara itu, harga daging domba naik sekitar 3,6 persen akibat berkurangnya jumlah ternak di kawasan Oseania yang berdampak pada kemampuan ekspor.
Di sisi lain, harga daging unggas atau ayam relatif lebih stabil. Kenaikannya hanya mencapai sekitar 1,4 persen karena pasokan global masih tergolong melimpah dan siklus produksinya lebih cepat dibandingkan ternak besar.
Harga Daging Global dan Ancaman Konflik Geopolitik
Meskipun pasokan unggas masih cukup baik, FAO mengingatkan bahwa risiko geopolitik dapat mengganggu stabilitas pasar.
Konflik yang terjadi di sejumlah wilayah strategis menyebabkan jalur distribusi internasional menjadi lebih mahal dan tidak efisien.
Sebagai contoh, eksportir daging dari Brasil menghadapi tantangan logistik akibat gangguan rute perdagangan menuju kawasan Timur Tengah. Sejumlah kapal pengangkut harus mengubah jalur pelayaran yang lebih panjang sehingga meningkatkan biaya transportasi.
Ketika biaya logistik meningkat, harga akhir produk daging juga berpotensi ikut naik.
Selain konflik geopolitik, penyebaran penyakit hewan di berbagai negara masih menjadi ancaman serius bagi industri peternakan global.
Jika wabah terus meluas, kapasitas produksi dapat menurun dan menyebabkan pasokan semakin terbatas.
Risiko Produksi Masih Membayangi Industri Daging Dunia
FAO memperingatkan bahwa prospek industri daging global sepanjang 2026 masih menghadapi berbagai tantangan.
Selain ketegangan geopolitik, wabah penyakit hewan yang belum sepenuhnya terkendali berpotensi meningkatkan biaya produksi peternakan.
Kenaikan biaya pakan, transportasi, dan pengendalian penyakit dapat mengurangi margin keuntungan peternak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan produksi dan investasi sektor peternakan.
Jika produksi tidak tumbuh sesuai kebutuhan pasar, tekanan terhadap harga diperkirakan akan terus berlanjut.
“Faktor-faktor tersebut dapat memicu lonjakan biaya produksi yang pada akhirnya berdampak pada margin keuntungan peternak serta keputusan mereka dalam berproduksi,” ungkap FAO.
Karena itu, pelaku industri dan pemerintah di berbagai negara perlu meningkatkan mitigasi risiko agar rantai pasok pangan tetap terjaga.
Harga Daging Global diperkirakan tetap tinggi sepanjang 2026 seiring kuatnya permintaan impor, terbatasnya pasokan dari negara eksportir utama, penyebaran penyakit hewan, serta ketegangan geopolitik. FAO menilai berbagai faktor tersebut masih akan membebani pasar internasional dan membuat harga daging, terutama daging sapi, sulit turun dalam waktu dekat. Jika gangguan produksi dan distribusi terus berlanjut, tekanan terhadap harga pangan dunia diperkirakan akan semakin besar hingga akhir tahun.


















