PAREPARE, INTERAKSINEWS.ID — Harga telur ayam di tingkat peternak di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Di saat bersamaan, biaya produksi justru melonjak tajam akibat kenaikan harga pakan dan bahan baku utama.
Kondisi tersebut membuat banyak peternak ayam petelur mulai kesulitan bertahan. Mereka harus menghadapi situasi serba sulit ketika harga jual telur turun drastis, sementara pengeluaran operasional semakin membengkak.
Salah satu peternak lokal, H Jamil, mengaku saat ini peternak berada dalam kondisi paling berat sepanjang tahun ini. Saat ditemui di kandangnya di Jalan Bambu Runcing, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kamis (14/5/2026), ia menjelaskan bahwa harga konsentrat pakan kini menembus Rp400 ribu per sak.
Padahal sebelumnya harga pakan masih berada di kisaran Rp360 ribu per sak.
Tidak hanya itu, harga jagung sebagai bahan utama pakan juga ikut naik signifikan dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu per kilogram.
“Setengah mati kita imbangi ini. Harga pakan naik terus, tapi harga telur malah turun, bahkan barangnya tidak laku-laku,” ujar Jamil.
Harga Telur Turun Hingga Rp38 Ribu per Rak
Di tengah lonjakan biaya produksi, harga telur justru mengalami penurunan tajam di tingkat peternak.
Jika sebelumnya telur dijual sekitar Rp50 ribu hingga Rp52 ribu per rak, kini harganya merosot menjadi hanya Rp38 ribu sampai Rp40 ribu per rak.
Penurunan harga tersebut diperparah dengan kondisi pasar yang lesu. Stok telur di kandang terus menumpuk karena daya serap konsumen dinilai menurun.
Melimpahnya stok membuat peternak terancam merugi lebih besar akibat telur berpotensi rusak sebelum terjual.
“Stok melimpah, tapi tidak laku,” katanya.
Situasi itu memaksa peternak mengambil langkah darurat agar telur tetap keluar dari kandang. Salah satunya dengan sistem pinjam ambil kepada pelanggan tetap.
“Terpaksa langganan dipaksa ambil telur. Biar tidak dibayar dulu tidak apa-apa, yang penting barangnya diambil daripada membusuk dan menumpuk di sini,” jelas Jamil.
Peternak Mulai Kehabisan Modal Kerja
Tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus membuat sebagian peternak mulai kehilangan modal kerja. Mereka kesulitan membeli pakan, membayar operasional kandang, hingga menjaga produktivitas ayam petelur.
Jamil mengaku saat ini dirinya hanya bisa bertahan dengan bantuan dana dari anak-anaknya.
“Kita minta bantuan sama anak-anak, siapa yang ada dananya dulu bantu kita. Kalau tidak begitu, tidak bisa kita bertahan,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan peternak lainnya, Ade. Ia menilai pemerintah perlu segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk dan menyebabkan banyak usaha peternakan gulung tikar.
Menurutnya, stabilisasi harga menjadi kebutuhan mendesak agar peternak tidak terus menanggung kerugian.
“Bisa bentuk subsidi pakan atau stabilkan harga telur. Karena kalau dibiarkan bisa bangkrut kita,” katanya.
Hilirisasi dan Ekspor Dinilai Belum Berdampak ke Peternak Lokal
Di tengah tekanan yang dialami peternak daerah, pemerintah sebelumnya mendorong penguatan sektor unggas melalui program hilirisasi nasional.
Program tersebut bahkan mulai difokuskan dari Sulawesi Selatan guna membuka kepastian pasar bagi peternak ayam nasional.
Hilirisasi Ayam Nasional Dimulai dari Sulsel, Peternak Dapat Kepastian Pasar
Selain itu, Menteri Pertanian juga baru melepas ekspor 545 ton produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Informasi lengkap dapat dilihat melalui Koridor.id.
Namun demikian, para peternak di Parepare berharap kebijakan nasional tersebut tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga mampu menyentuh peternak kecil yang saat ini sedang menghadapi tekanan berat di lapangan.
Tanpa intervensi nyata, ancaman bangkrut bagi peternak telur lokal diperkirakan semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.


















