Parepare – Ratusan penumpang KM Bukit Siguntang terlantar di Pelabuhan Nusantara Parepare, Senin (23/3/2026), akibat keterlambatan kedatangan kapal.
Para penumpang yang merupakan pemudik arus balik Lebaran dengan tujuan Balikpapan, Nunukan, dan Tarakan harus menunggu berjam-jam bahkan hingga menginap di terminal penumpang.
Menginap di Terminal Penumpang
Sebagian besar penumpang terpaksa bermalam di Terminal Penumpang Ajatappareng yang berada di kawasan pelabuhan. Mereka telah menunggu sejak Minggu (22/3/2026) siang, setelah menerima informasi adanya perubahan jadwal keberangkatan.
Kondisi tersebut membuat para penumpang tidak memiliki pilihan selain bertahan di lokasi. Mereka terlihat beristirahat di kursi ruang tunggu hingga tidur di area terminal sambil menanti kepastian jadwal.
Salah satu penumpang tujuan Balikpapan, Gilang, mengaku sudah menunggu sejak sehari sebelumnya.
“Saya dari kemarin menunggu kapal. Awalnya dapat informasi berangkat besok, ternyata diundur dari 22 ke 23 Maret. Tidak apa-apa kalau siang, asal jangan diundur lagi,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Kisman, penumpang lainnya yang hendak menuju Pelabuhan Semayang.
Ia mengaku sudah berada di pelabuhan sejak pagi hari sebelumnya tanpa kepastian jadwal keberangkatan.
“Dari Polewali Mandar ke Balikpapan. Dari kemarin pagi sudah di sini, tapi tidak ada informasi jelas,” katanya.
Kapal Tiba dan Dijadwalkan Berangkat Sore
Kapal yang berlayar dari Maumere dan Makassar tersebut akhirnya tiba di dermaga Pelabuhan Nusantara Parepare.
KM Bukit Siguntang dijadwalkan kembali melanjutkan pelayaran pada pukul 17.00 Wita menuju sejumlah kota di Kalimantan, termasuk Balikpapan, Nunukan, dan Tarakan.
Meski kapal telah tiba, para penumpang berharap tidak ada lagi penundaan lanjutan mengingat mereka telah menunggu cukup lama.
Minim Informasi Perparah Situasi
Keterlambatan kapal pada periode arus balik Lebaran seperti ini kerap menyebabkan penumpukan penumpang di pelabuhan.
Minimnya informasi terkait perubahan jadwal juga memperparah situasi, terutama bagi penumpang yang datang dari luar daerah dan tidak memiliki akses informasi yang memadai.
Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pengelola pelabuhan dan operator kapal untuk meningkatkan kualitas layanan, khususnya dalam penyampaian informasi kepada penumpang.

















