Interaksinews.id, Parepare — Dampak musim kemarau 2026 mulai dirasakan warga Kota Parepare, Sulawesi Selatan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Penurunan debit air baku membuat sebagian warga harus mencari sumber air alternatif hingga berjalan naik turun bukit.
Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian wilayah Indonesia memasuki periode puncak musim kemarau. BMKG memprediksi Agustus 2026 menjadi salah satu periode puncak kemarau terluas di Indonesia. BMKG juga memproyeksikan musim kemarau 2026 cenderung lebih kering dari kondisi normal.
Di Parepare, dampaknya mulai terlihat pada menurunnya pasokan air baku untuk pengolahan air bersih. Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap kelancaran distribusi air kepada pelanggan.
Dampak Musim Kemarau Mulai Menekan Pasokan Air Parepare
Manajemen PAM Tirta Karajae Parepare mengakui terjadi penurunan drastis pada pasokan air baku permukaan. Dalam kondisi normal, produksi berada di kisaran 120 hingga 130 liter per detik.
Namun, kondisi kemarau membuat produksi diproyeksikan turun menjadi sekitar 60 hingga 80 liter per detik. Penurunan tersebut menunjukkan tekanan besar terhadap sistem penyediaan air bersih yang mengandalkan sumber air permukaan.
Direktur PAM Tirta Karajae Parepare, Abdul Azis, mengatakan kondisi sumber air mengalami penurunan akibat cuaca yang sangat kering.
“Kondisi air PDAM yang kita lihat ini sangat menurun akibat pengaruh musim sekarang yang sangat ekstrem.”
Menurut Azis, penurunan tersebut berdampak pada proses pengolahan sekaligus pendistribusian air bersih. Dampak paling terasa berada pada wilayah pelanggan yang mendapatkan layanan dari sumber air permukaan.
Kondisi tersebut membuat pengelola air bersih harus mencari strategi agar pasokan tetap menjangkau masyarakat. Pengurangan debit air baku secara langsung membatasi kemampuan produksi dan distribusi.
Warga Parepare Harus Berburu Air Bersih
Dampak musim kemarau tidak hanya terlihat dari angka produksi air. Bagi sebagian warga, persoalan tersebut telah masuk ke kehidupan sehari-hari.
Sejumlah warga mengaku harus mencari sumber air lain ketika air perpipaan tidak mengalir. Bahkan, sebagian warga harus berjalan kaki menuju rumah kerabat atau sumur yang masih memiliki persediaan air.
Nurhalimah, warga Kelurahan Ujung Baru, Kecamatan Soreang, mengatakan pasokan air di rumahnya terhenti selama beberapa hari.
“Sudah tiga hari sama ini (air tidak mengalir). Mengungsi mandi di rumahnya Mama.”
Untuk mendapatkan air, Nurhalimah bersama anak-anaknya harus berjalan menuju rumah kerabat. Perjalanan tersebut tidak mudah karena mereka harus melewati kawasan berbukit.
“Ada 20 menit tadi ke sini. Kita jalan ke atas (bukit). Jalan-jalan begitu sama anak-anak, naik-turun bukit.”
Kesulitan mendapatkan air akhirnya ikut memengaruhi aktivitas keluarga. Kebutuhan mandi, mencuci, dan aktivitas rumah tangga lainnya menjadi lebih sulit ketika pasokan air berhenti.
Dampak Musim Kemarau terhadap Aktivitas Anak Sekolah
Krisis air bersih juga dapat memengaruhi aktivitas pendidikan warga. Keterbatasan air membuat sebagian orang tua harus mempertimbangkan kembali aktivitas anak ketika kebutuhan dasar di rumah tidak terpenuhi.
Nurhalimah mengatakan kondisi tersebut bahkan membuatnya terpaksa tidak mengizinkan anak pergi sekolah ketika tidak tersedia air untuk mandi.
“Ya terpaksa tidak sekolah dulu kalau tidak ada air, karena tidak mandi.”
Situasi itu menunjukkan bahwa dampak musim kemarau tidak berhenti pada persoalan ketersediaan air. Ketika akses air terganggu, aktivitas keluarga, pekerjaan, kebersihan, hingga pendidikan anak dapat ikut terdampak.
Karena itu, distribusi air menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air alternatif.
PAM Tirta Karajae Siapkan Penggiliran Distribusi Air
Menghadapi penurunan pasokan, PAM Tirta Karajae menyiapkan opsi penggiliran distribusi kepada pelanggan. Strategi tersebut bertujuan agar air yang tersedia dapat dibagi ke lebih banyak wilayah.
Skema penggiliran berarti aliran air dapat dihentikan sementara di satu wilayah. Setelah itu, distribusi dialihkan ke wilayah lain pada waktu tertentu.
Azis mengatakan langkah tersebut kemungkinan diterapkan jika kondisi cuaca kering terus bertahan.
“Kalau cuaca bertahan seperti ini, besar kemungkinan dilakukan penggiliran untuk daerah-daerah tertentu.”
Menurut dia, penggiliran menjadi salah satu langkah taktis untuk menjaga pemerataan layanan. PAM juga menyesuaikan distribusi berdasarkan kondisi pasokan air yang tersedia.
Penggiliran distribusi menjadi pilihan ketika kapasitas produksi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pelanggan secara normal.
Mobil Tangki Disiapkan untuk Warga Terdampak
Selain pengaturan jaringan pipa, PAM Tirta Karajae menyiapkan bantuan air melalui armada mobil tangki. Strategi tersebut terutama penting bagi kawasan yang mengalami gangguan distribusi.
Mobil tangki dapat menjadi solusi sementara ketika jaringan perpipaan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Langkah tersebut juga membantu warga yang tinggal di kawasan perbukitan dan memiliki akses lebih sulit terhadap sumber air.
Azis menyebut distribusi menggunakan armada tangki menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat.
“Itu mungkin langkah taktis yang coba kita lakukan di samping dengan membantu masyarakat untuk pendistribusian langsung dengan menggunakan armada mobil tangki.”
Dengan demikian, penanganan dampak musim kemarau membutuhkan kombinasi antara distribusi melalui jaringan pipa dan bantuan air secara langsung.
Wilayah Terdampak Masih Didata
PAM Tirta Karajae belum menetapkan secara pasti jumlah kecamatan yang mengalami dampak. Pengelola masih melakukan pendataan karena jaringan pipa di Parepare saling terhubung.
Kondisi jaringan yang terinterkoneksi membuat gangguan pasokan tidak selalu dapat dipetakan hanya berdasarkan batas wilayah administratif. Sebagian wilayah dapat mengalami penurunan tekanan atau gangguan aliran, tetapi masih menerima layanan.
Azis menjelaskan pendataan terus dilakukan untuk mengetahui titik-titik yang paling terdampak.
“Kita punya pipa itu interkoneksi ji. Cuman kita ada memang pasti akan ada terdampak, tetapi itu masih bisa terlayani.”
Pendataan tersebut penting untuk menentukan prioritas distribusi. Wilayah dengan kebutuhan paling mendesak dapat memperoleh penanganan lebih cepat melalui pengaturan aliran atau bantuan mobil tangki.
Mengapa Musim Kemarau 2026 Perlu Diwaspadai?
Kondisi di Parepare berlangsung ketika musim kemarau nasional memasuki periode penting. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 secara luas terjadi pada Agustus, dengan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kondisi kering.
BMKG juga sebelumnya memperkirakan awal musim kemarau 2026 datang lebih cepat di banyak wilayah. Sebanyak 325 Zona Musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju dibandingkan kondisi normal.
Dalam analisis iklimnya, BMKG juga memproyeksikan peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada Agustus di sebagian besar Sulawesi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam pengelolaan sumber daya air.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti setiap wilayah akan mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama. Dampak kemarau sangat bergantung pada kondisi lokal, ketersediaan sumber air, infrastruktur, serta pola hujan masing-masing wilayah.
Warga Perlu Menghemat Air Selama Kemarau
Di tengah penurunan pasokan, masyarakat juga memiliki peran untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air. Penghematan dapat dilakukan dengan menggunakan air sesuai kebutuhan prioritas.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengutamakan air untuk minum dan kebutuhan sanitasi.
- Mengurangi penggunaan air untuk aktivitas yang tidak mendesak.
- Menyimpan air secukupnya ketika distribusi kembali normal.
- Memastikan tidak ada kebocoran pada keran atau pipa rumah.
- Menggunakan kembali air yang masih layak untuk kebutuhan tertentu.
- Mengikuti informasi resmi mengenai jadwal distribusi air.
Penghematan air menjadi semakin penting ketika sumber air baku mengalami penurunan debit.
Selain membantu menjaga persediaan rumah tangga, kebiasaan tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap sistem distribusi selama periode kemarau.
Krisis Air Berpotensi Mengubah Pola Aktivitas Warga
Persoalan air bersih dapat menimbulkan dampak berantai apabila berlangsung terlalu lama. Warga harus mengalokasikan lebih banyak waktu untuk mencari air, sementara aktivitas rumah tangga ikut terganggu.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan berbukit, persoalannya menjadi lebih kompleks. Jarak menuju sumber air dan medan yang sulit dapat meningkatkan beban warga ketika harus mengambil air menggunakan jeriken.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan pentingnya kesiapan distribusi alternatif. Mobil tangki, pengaturan jaringan, pendataan wilayah terdampak, dan komunikasi publik menjadi bagian penting dalam menghadapi periode kemarau panjang.
Pemerintah daerah dan pengelola layanan air juga perlu memastikan informasi mengenai jadwal distribusi dapat diterima masyarakat. Informasi yang jelas membantu warga mengatur kebutuhan air rumah tangga dengan lebih baik.
Kesimpulan
Dampak musim kemarau 2026 di Parepare mulai dirasakan melalui menurunnya pasokan air baku dan terganggunya distribusi air bersih. Produksi air baku yang dalam kondisi normal mencapai 120 hingga 130 liter per detik diproyeksikan turun menjadi 60 hingga 80 liter per detik.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air alternatif. Bahkan, warga di kawasan berbukit harus berjalan naik turun bukit untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-hari.
PAM Tirta Karajae menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi kondisi tersebut. Penggiliran distribusi dan bantuan mobil tangki menjadi opsi taktis agar masyarakat tetap mendapatkan pasokan air.
Di sisi lain, BMKG memprediksi Agustus 2026 menjadi salah satu periode puncak musim kemarau di Indonesia. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap ketersediaan air perlu ditingkatkan, termasuk di wilayah Sulawesi.
Karena itu, pengelolaan sumber air tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola layanan. Penghematan air oleh masyarakat, distribusi yang terukur, serta kesiapan pemerintah menghadapi kekeringan menjadi kunci untuk mengurangi dampak kemarau di Parepare. (MS Journal)

















