Interaksinews.id, Parepare — Sedekah Jumat Parepare kembali menunjukkan kuatnya kepedulian sosial peserta didik di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Melalui program tersebut, siswa jenjang SD dan SMP berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp20.041.000.
Dana itu berasal dari uang jajan yang disisihkan para siswa secara sukarela. Bahkan, sebagian peserta didik hanya menyumbangkan Rp500 hingga Rp1.000.
Meski nominalnya terlihat kecil, kebiasaan berbagi yang dilakukan secara bersama-sama mampu menghasilkan donasi hingga puluhan juta rupiah. Program ini sekaligus menjadi sarana untuk menanamkan nilai kepedulian sosial kepada peserta didik sejak dini.
Donasi tersebut diserahkan secara simbolis oleh perwakilan siswa kepada Ketua Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas Kota Parepare. Penyerahan berlangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Parepare, Jumat, 31 Juli 2026.
Penyerahan itu disaksikan langsung oleh Wali Kota Parepare, H. Tasming Hamid. Hadir pula Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare Adriani Idrus, Kepala Bidang Peningkatan Mutu Guru dan Tenaga Kependidikan Andi Fardani Wirawan, serta sejumlah kepala sekolah.
Sedekah Jumat Parepare Kumpulkan Rp20.041.000
Program Sedekah Jumat melibatkan peserta didik dari satuan pendidikan SD dan SMP di Kota Parepare. Mereka menyisihkan sebagian uang jajan untuk dikumpulkan sebagai donasi.
Pada pelaksanaan Jumat, 31 Juli 2026, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp20.041.000.
Besarnya dana tersebut menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu bergantung pada kemampuan seseorang untuk memberikan sumbangan dalam jumlah besar. Sebaliknya, kebiasaan berbagi secara konsisten dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas ketika dilakukan secara bersama-sama.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare, Adriani Idrus, menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme siswa yang mengikuti program tersebut.
“Saya sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan merasa sangat bangga kepada anak-anak kami di satuan pendidikan SD dan SMP yang memiliki kepedulian untuk berbagi melalui Sedekah Jumat. Donasi yang mereka kumpulkan kemudian disalurkan melalui Baznas untuk membantu anak-anak kita yang membutuhkan uluran tangan,” kata Adriani.
Menurutnya, dana yang terkumpul merupakan hasil dari kepedulian ribuan peserta didik. Mereka menyisihkan uang jajan sesuai kemampuan masing-masing.
Siswa Parepare Belajar Berbagi Sejak Dini
Program Sedekah Jumat tidak hanya berorientasi pada pengumpulan dana. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Melalui kebiasaan menyisihkan sebagian uang jajan, siswa belajar memahami arti berbagi. Mereka juga mendapat pengalaman langsung tentang pentingnya membantu orang lain yang membutuhkan.
Nilai pendidikan karakter dalam program ini menjadi salah satu aspek penting yang mendapat perhatian. Sebab, sekolah tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik peserta didik.
Sekolah juga memiliki peran dalam membentuk karakter, kepedulian, empati, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, kegiatan sosial yang melibatkan siswa dapat menjadi pengalaman positif dalam proses pendidikan.
Wali Kota Parepare, H. Tasming Hamid, memberikan apresiasi terhadap kepedulian yang ditunjukkan para siswa.
Menurut Tasming, nilai utama dari program tersebut bukan hanya terletak pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperlihatkan tumbuhnya empati dan semangat berbagi di kalangan anak-anak.
“Anak-anak kita telah memberikan teladan yang luar biasa. Mereka rela menyisihkan sebagian uang jajannya untuk membantu sesama. Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya, ketika rasa peduli dan empati dibangun sejak dini,” ujar Tasming Hamid.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebiasaan sederhana dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik.
Ketika siswa terbiasa menyisihkan sebagian uang yang dimilikinya untuk membantu sesama, mereka belajar bahwa kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan dari hal-hal sederhana.
Sedekah Jumat Parepare Ajarkan Arti Kepedulian
Besaran sumbangan setiap siswa tidak menjadi ukuran utama dalam program tersebut. Sebagian peserta didik bahkan hanya mampu menyumbangkan Rp500 atau Rp1.000.
Namun, kontribusi kecil itu menjadi berarti ketika dilakukan secara kolektif.
Adriani menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil apabila dilakukan dengan keikhlasan dan secara konsisten.
“Nilainya mungkin kecil jika dilihat dari setiap anak, tetapi ketika dilakukan bersama-sama dengan penuh keikhlasan, hasilnya menjadi luar biasa. Ini membuktikan bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil jika dilakukan secara kolektif,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting dalam membangun pemahaman siswa mengenai kepedulian sosial. Anak-anak tidak harus menunggu memiliki banyak uang untuk mulai berbagi.
Sebaliknya, mereka dapat belajar membantu orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.
Donasi Siswa Disalurkan Melalui Baznas
Dana yang terkumpul dari Program Sedekah Jumat selanjutnya disalurkan melalui Baznas Kota Parepare. Lembaga tersebut menjadi pihak yang menerima donasi secara simbolis dari perwakilan siswa.
Penyaluran melalui lembaga pengelola zakat juga menjadi bagian penting dalam memastikan dana yang terkumpul dapat diarahkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks pendidikan, mekanisme tersebut sekaligus memberikan pembelajaran kepada siswa bahwa kegiatan sosial membutuhkan pengelolaan yang baik. Donasi yang dihimpun perlu disalurkan secara tepat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh penerima.
Adriani mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan uluran tangan.
Dengan demikian, Program Sedekah Jumat memiliki dua manfaat sekaligus. Pertama, program ini membantu menghimpun dana sosial untuk masyarakat yang membutuhkan.
Kedua, kegiatan tersebut memberikan pengalaman pendidikan karakter bagi peserta didik yang terlibat di dalamnya.
Harapan Program Sedekah Jumat Terus Berlanjut
Pemerintah Kota Parepare berharap budaya berbagi yang tumbuh melalui Program Sedekah Jumat dapat terus berlangsung. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu periode pelaksanaan.
Tasming Hamid berharap semangat berbagi para siswa terus terpelihara dengan dilandasi keikhlasan. Dengan begitu, kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Hal serupa disampaikan Adriani Idrus. Ia berharap Program Sedekah Jumat dapat terus berjalan dan menjadi budaya positif di seluruh satuan pendidikan.
“Harapan kami, Program Sedekah Jumat dapat terus berlanjut dan menjadi budaya positif di seluruh satuan pendidikan. Sebab, setiap kebaikan, sekecil apa pun, apabila dilakukan secara konsisten, akan memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat,” tutupnya.
Keberlanjutan program menjadi penting karena pendidikan karakter membutuhkan proses yang konsisten. Nilai empati dan kepedulian akan lebih mudah tumbuh ketika siswa mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.
Selain itu, keterlibatan sekolah, pemerintah daerah, Baznas, guru, orang tua, dan siswa dapat memperkuat ekosistem pendidikan karakter di Kota Parepare.
Sedekah Jumat Parepare berhasil menghimpun Rp20.041.000 dari siswa SD dan SMP di Kota Parepare pada pelaksanaan 31 Juli 2026. Dana tersebut berasal dari uang jajan yang disisihkan secara sukarela, termasuk sumbangan siswa sebesar Rp500 hingga Rp1.000.
Program tersebut tidak hanya menghasilkan donasi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Sedekah Jumat Parepare juga menjadi media pendidikan karakter untuk menanamkan empati, kepedulian, keikhlasan, dan semangat gotong royong sejak usia dini.
Keberhasilan menghimpun puluhan juta rupiah menunjukkan bahwa kontribusi kecil dapat menghasilkan dampak besar ketika dilakukan secara bersama-sama. Karena itu, keberlanjutan program diharapkan mampu memperkuat budaya berbagi di lingkungan pendidikan Kota Parepare.(*)
















