PAREPARE, INTERAKSINEWS.ID — Perum Bulog Parepare, Sulawesi Selatan, mulai menyarankan pedagang dan mitra Rumah Pangan Kita (RPK) untuk membatasi penjualan Minyakita maksimal dua liter per konsumen. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pemerataan distribusi di tengah tingginya permintaan masyarakat dan terbatasnya stok minyak goreng subsidi pemerintah.
Kebijakan ini muncul setelah stok Minyakita di sejumlah titik penjualan kerap habis dalam waktu singkat. Kondisi tersebut bahkan memicu keluhan pedagang karena pasokan dinilai tidak sebanding dengan lonjakan kebutuhan masyarakat.
Kepala Cabang Bulog Parepare, Rahmi Mangerang, mengatakan pembatasan pembelian menjadi langkah realistis agar distribusi minyak goreng tetap terkendali.
“Kami sarankan untuk menjual dua liter saja per orang. Pengalaman kami, berapa pun stok yang diberikan akan langsung habis jika tidak dibatasi seperti itu,” kata Rahmi, Rabu (13/5/2026).
Permintaan Minyakita di Parepare Melonjak
Tingginya minat masyarakat terhadap Minyakita dipicu oleh selisih harga yang cukup jauh dibanding minyak goreng curah di pasaran.
Bulog masih menjual Minyakita sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter, sedangkan harga minyak curah di pasar telah menyentuh angka Rp22.000 per liter.
Perbedaan harga tersebut membuat masyarakat lebih memilih berburu minyak goreng subsidi. Akibatnya, stok di tingkat pengecer cepat habis hanya dalam hitungan jam.
“Agak sulit bagi kami untuk mengkondisikan harga di pasar, karena memang harga Minyakita ini jauh lebih rendah dibanding harga minyak curah. Jadi wajar kalau minat masyarakat terhadap Minyakita tinggi,” ungkap Rahmi.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, minyak goreng murah menjadi komoditas yang paling diburu warga.
Sebelumnya, persoalan kelangkaan dan kenaikan harga Minyakita di Parepare juga telah menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut pernah diulas dalam artikel di koridor.id terkait sulitnya masyarakat mendapatkan stok Minyakita menjelang Iduladha.
Stok Minyakita Bulog Parepare Terbatas
Selain lonjakan permintaan, keterbatasan stok juga dipengaruhi kuota pasokan dari produsen. Bulog Parepare mencatat ketersediaan Minyakita saat ini hanya berkisar 50 ton per bulan.
Pasokan tersebut berasal dari produsen seperti PT Tanjung Sarana Lestari yang merupakan bagian dari Astra Agro Lestari di Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Namun, produsen disebut mulai membatasi distribusi untuk pasar domestik setelah kuota ekspor mereka terpenuhi.
“Pihak produsen menyampaikan bahwa kuota mereka untuk ekspor sudah terpenuhi. Mereka membatasi pasokan ke kami, sehingga diberlakukan kuota ke RPK agar semua dapat,” jelas Rahmi.
Kondisi tersebut membuat Bulog harus mengatur distribusi secara lebih ketat agar seluruh mitra RPK tetap memperoleh bagian stok.
Pedagang Soroti Dugaan Permainan Harga
Di tengah kelangkaan stok resmi, muncul dugaan praktik penjualan Minyakita di atas HET oleh oknum tertentu. Sejumlah pedagang mengaku masih menemukan Minyakita beredar, namun dengan harga lebih mahal dibanding harga resmi Bulog.
Darwis, salah seorang pedagang di Parepare, mengungkapkan kondisi itu mulai meresahkan karena masyarakat kesulitan memperoleh minyak goreng subsidi dengan harga normal.
“Karena tidak ada Minyakita di jalur resmi, biasa ada orang yang jual tapi harganya lebih mahal dari harga Bulog,” ujarnya.
Ia juga menyoroti distribusi stok yang dinilai belum merata di tingkat RPK. Menurutnya, ada mitra tertentu yang memperoleh kuota lebih besar sehingga membuka peluang penjualan kembali dengan harga tinggi.
“Harusnya Bulog itu merata pembagiannya. Jangan ada RPK yang dikasih kuota banyak sementara yang lain sedikit. Jadi mereka yang dapat banyak ini sering jual mahal,” katanya.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran adanya celah penimbunan maupun praktik monopoli distribusi di lapangan. Jika tidak diawasi secara ketat, kondisi ini dikhawatirkan semakin membebani masyarakat kecil yang bergantung pada minyak goreng subsidi.
Distribusi Minyakita Jadi Tantangan Pemerintah
Persoalan Minyakita di Parepare memperlihatkan bahwa stabilitas pangan bukan hanya soal ketersediaan barang, tetapi juga menyangkut distribusi dan pengawasan harga di lapangan.
Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga harga tetap sesuai HET. Namun di sisi lain, keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan membuka peluang terjadinya permainan harga oleh oknum tertentu.
Karena itu, pengawasan distribusi hingga tingkat pengecer dinilai menjadi langkah penting agar minyak goreng subsidi benar-benar dinikmati masyarakat yang membutuhkan.



















