Ekonomi & BisnisNasional

Menteri Pertanian Sebut Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Ini Datanya

JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan dengan tingkat impor hanya sekitar 5 persen dari total kebutuhan konsumsi nasional.

Baca Juga :  Menekraf Riefky Harsya: 80 Daerah Segera Miliki Dinas Ekonomi Kreatif

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa capaian tersebut telah memenuhi indikator swasembada pangan yang ditetapkan secara internasional.

“Definisi swasembada pangan adalah maksimal impor 10 persen. Saat ini kita hanya 5 persen,” ujar Amran dalam keterangannya, Sabtu.


Produksi Lampaui Kebutuhan Nasional

Lebih lanjut, Amran memaparkan bahwa produksi 11 komoditas pangan strategis nasional mencapai sekitar 73,7 juta ton per tahun. Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional berada di angka 68,7 juta ton.

Baca Juga :  Pengusaha Tempe di Parepare Memilih Bertahan di Tengah Melemahnya Rupiah

Dengan demikian, selisih tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan pangan telah dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Adapun 11 komoditas tersebut meliputi:

  • Beras
  • Jagung pakan
  • Cabai rawit dan cabai besar
  • Daging ayam dan telur ayam
  • Bawang merah dan bawang putih
  • Gula konsumsi
  • Kedelai
  • Daging sapi/kerbau

Impor Hanya dari Komoditas Tertentu

Meski telah mencapai swasembada, pemerintah masih melakukan impor dalam jumlah terbatas untuk beberapa komoditas tertentu.

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Tembus US$110, Pemerintah Diminta Tahan Kenaikan BBM Subsidi

Total impor tercatat sekitar 3,5 juta ton, yang terdiri dari:

  • Kedelai: 2,6 juta ton
  • Bawang putih: 600 ribu ton
  • Daging ruminansia: 350 ribu ton

Jika dibandingkan dengan total produksi, angka tersebut hanya sekitar 4,8–5,1 persen, masih jauh di bawah batas yang ditetapkan Food and Agriculture Organization (FAO).

Baca Juga :  Amran Minta Satgas Pangan Tindak Tegas Pelanggar HET

Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton

Selain produksi, indikator lain yang memperkuat capaian ini adalah meningkatnya stok beras nasional.

Data Bapanas menunjukkan bahwa stok beras yang dikelola Perum Bulog telah menembus lebih dari 5 juta ton per 23 April 2026.

Angka ini meningkat signifikan:

  • Naik 264,2 persen dibandingkan 2024
  • Naik 65,8 persen dibandingkan 2025

Lonjakan tersebut mencerminkan peningkatan serapan produksi dalam negeri yang sangat signifikan.

Baca Juga :  Lowongan TPM P3TGAI 2026 Sulawesi Selatan: Jadwal, Syarat, dan Link Pendaftaran

Serapan Produksi Petani Meningkat

Realisasi serapan beras dari petani oleh Bulog juga menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, serapan mencapai 2,31 juta ton.

Angka ini melonjak tajam dibandingkan:

  • 2024: 259,9 ribu ton
  • 2025: 1,78 juta ton

Kondisi ini tidak hanya memperkuat stok nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca Juga :  Politik Pangan Prabowo: Kemendagri Dorong Daerah Fokus Ketahanan Pangan

Dampak Positif bagi Petani

Capaian ini turut berdampak pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang konsisten berada di atas angka 120 sejak pertengahan 2024.

Bahkan, pada Desember 2025 dan Februari 2026, NTP mencapai angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, yakni 126,11.

Baca Juga :  Silaturahmi ke Pengurus Kowani, Erna Rasyid Taufan Sampaikan Kemajuan Parepare Sebagai Kota Tujuan

Menuju Kemandirian Pangan

Pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy menilai capaian stok beras nasional menjadi indikator kuat menuju kemandirian pangan.

“Kalau beras, saya sepakat Indonesia sudah mendekati kemandirian,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa capaian ini sejalan dengan program prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan pangan.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pangan dan protein kita sudah terpenuhi,” tegas Amran.

Berita Terkait