Nasional

Produksi Benih Padi Subang Capai 245.000 Ton, Terbesar di Asia Tenggara

Interaksinews.id, SubangProduksi benih padi Subang mencapai hingga 245.000 ton per tahun. Angka tersebut berasal dari pusat pembenihan BRMP Sukamandi, Jawa Barat, yang disebut sebagai pusat pembenihan padi terbesar di Asia Tenggara.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau fasilitas pembenihan tersebut pada Rabu (2/9/2026). Kunjungan itu bertujuan melihat langsung proses produksi benih sekaligus memastikan ketersediaannya untuk mendukung kebutuhan petani di berbagai daerah.

“Ini adalah pusat pembenihan padi terbesar di Asia Tenggara. Kita jaga, kita kawal,” ujar Amran saat berada di lokasi.

Pusat pembenihan di Sukamandi memiliki posisi strategis dalam rantai produksi pangan nasional. Benih yang dihasilkan tidak hanya digunakan di wilayah Subang, tetapi juga didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Produksi Benih Padi Subang Dukung Ketersediaan Benih Nasional

Produksi benih padi Subang menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah menjaga ketersediaan benih berkualitas. Ketersediaan benih menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya padi sejak awal musim tanam.

Benih berkualitas membantu tanaman tumbuh lebih optimal. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi sekaligus menjaga mutu benih yang disiapkan untuk petani.

Dalam kunjungannya, Amran melihat sejumlah ruangan yang digunakan dalam proses produksi benih padi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga fasilitas pembenihan agar mampu memenuhi kebutuhan petani secara berkelanjutan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, produksi benih di pusat pembenihan Sukamandi telah mencapai 245.000 ton per tahun.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kapasitas pusat pembenihan tersebut dalam mendukung penyediaan benih untuk pertanian nasional. Pemerintah kemudian mendorong agar produksi dan pemanfaatan benih unggul terus diperluas.

Secara kelembagaan, kawasan Sukamandi merupakan bagian dari BRMP Padi. Fasilitas IP2SIP Sukamandi berada di Desa Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, dan memiliki lahan sawah irigasi seluas 309 hektare.

Kawasan tersebut juga memiliki fungsi pengujian teknologi, produksi benih sumber, uji adaptasi padi sawah, serta pengujian ketahanan tanaman terhadap berbagai cekaman.

Benih Berkualitas Jadi Kunci Produktivitas Padi

Ketersediaan benih saja belum cukup untuk meningkatkan produksi pertanian. Petani juga membutuhkan benih yang memiliki kualitas dan karakter sesuai dengan kondisi lahan serta musim tanam.

Karena itu, pemerintah memberikan perhatian terhadap pengembangan varietas yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan.

Menteri Pertanian menyebut benih yang dihasilkan BRMP Padi dapat mendukung produktivitas tinggi. Dalam peninjauan di Subang, Amran menyampaikan bahwa benih unggul tersebut dapat menghasilkan produktivitas sekitar 10–13 ton per hektare dalam penerapan yang sesuai.

Kita akan kembangkan secara masif ke seluruh Indonesia,” kata Amran.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan sistem perbenihan tidak berhenti pada peningkatan produksi di pusat pembenihan. Pemerintah juga ingin memperluas penggunaan benih unggul ke sentra-sentra produksi padi di berbagai daerah.

Dengan demikian, produksi benih padi Subang memiliki kaitan langsung dengan agenda peningkatan produktivitas pertanian. Semakin kuat sistem penyediaan benih, semakin besar peluang petani memperoleh bahan tanam yang sesuai kebutuhan.

Namun, produktivitas padi tetap dipengaruhi banyak faktor. Pengelolaan air, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, teknologi budidaya, serta kondisi lahan juga menentukan hasil panen.

Benih Tahan Kekeringan Disiapkan Hadapi Cuaca Ekstrem

Tantangan lain yang menjadi perhatian pemerintah adalah perubahan kondisi cuaca. Musim panas ekstrem dan kekeringan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman padi, terutama ketika ketersediaan air berkurang.

Kondisi tersebut membuat pengembangan benih tahan kekeringan menjadi semakin penting. Varietas dengan kemampuan adaptasi terhadap kondisi kering dapat menjadi salah satu pilihan dalam menghadapi risiko penurunan produktivitas.

Produksi Benih Padi Subang Hadapi Risiko El Nino

Pengembangan benih yang sesuai untuk musim kering juga menjadi bagian dari strategi menghadapi risiko El Nino. Fenomena tersebut dapat meningkatkan suhu dan memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air di lahan pertanian.

Karena itu, penyediaan benih yang lebih sesuai dengan kondisi musim menjadi salah satu langkah antisipasi. Pemerintah dapat menyesuaikan jenis benih dengan karakteristik lahan dan kondisi pertanaman.

Benih untuk musim hujan maupun varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan menjadi bagian dari pengembangan perbenihan padi. Pendekatan tersebut penting agar petani memiliki pilihan ketika menghadapi kondisi cuaca yang berbeda.

Strategi tersebut juga sejalan dengan upaya meningkatkan produktivitas melalui modernisasi pertanian. Kementerian Pertanian saat ini mendorong penerapan Pertanian Modern-Advanced Agricultural System atau PM-AAS di sejumlah daerah.

Dalam pengujian yang dilakukan Kementerian Pertanian, metode PM-AAS dilaporkan mampu meningkatkan produktivitas dari kisaran 5–5,5 ton menjadi 11–13 ton per hektare pada lokasi tertentu.

Artinya, peningkatan produksi padi membutuhkan pendekatan yang saling melengkapi. Benih berkualitas, teknologi budidaya, pengelolaan lahan, dan efisiensi produksi perlu berjalan bersama.

Sukamandi Berperan dalam Penguatan Ketahanan Pangan

Keberadaan pusat pembenihan di Sukamandi memiliki arti penting bagi penguatan sistem pangan Indonesia. Fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi benih, tetapi juga mendukung pengujian dan pengembangan teknologi tanaman padi.

Benih dari pusat pembenihan kemudian dapat menjadi sumber bahan tanam bagi berbagai wilayah. Distribusi tersebut membantu memperluas akses petani terhadap benih yang sesuai dengan kebutuhan pertanian.

Di sisi lain, peningkatan kapasitas produksi perlu diikuti pengawasan mutu. Benih yang tersedia dalam jumlah besar harus tetap memenuhi standar agar manfaatnya dapat dirasakan petani.

Pemerintah juga perlu memastikan distribusi berlangsung tepat waktu. Keterlambatan benih dapat mengganggu jadwal tanam dan berpengaruh terhadap produktivitas lahan.

Dengan kapasitas produksi yang besar, Sukamandi memiliki peluang untuk terus memperkuat sistem perbenihan nasional. Pengembangan tersebut menjadi semakin penting ketika sektor pertanian menghadapi tekanan akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Pada akhirnya, produksi benih padi Subang bukan sekadar persoalan jumlah produksi. Kualitas benih, kesesuaian varietas, distribusi, serta kemampuan petani menerapkan teknologi budidaya menjadi faktor yang sama pentingnya.

Jika seluruh komponen tersebut berjalan secara terpadu, pusat pembenihan seperti Sukamandi dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan produktivitas sawah dan ketahanan pangan nasional. (*)


Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan keterangan yang diterima redaksi. Setiap informasi telah disajikan secara proporsional untuk memberikan konteks kepada pembaca. Redaksi terbuka terhadap koreksi atau informasi tambahan apabila terdapat data yang perlu diperbarui.

Berita Terkait