Pendidikan & Tehnologi

Pelatihan PMKKA Parepare, 428 Guru Disiapkan Hadapi AI Fokus Tingkatkan Mutu Pembelajaran

Interaksinews.id, Parepare — Pelatihan PMKKA Parepare resmi dibuka untuk memperkuat kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan. Kegiatan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA) tersebut berlangsung di UPTD SMP Negeri 2 Parepare, Sabtu (1/8/2026).

Pelatihan ini berpusat pada komunitas MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Parepare. Sebanyak 428 guru dari berbagai komunitas belajar di Kota Parepare mengikuti kegiatan tersebut.

Pelaksanaan pelatihan berlangsung serentak di 24 kabupaten/kota. Setiap daerah memiliki titik pelatihan dan kategori peserta yang berbeda.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Liaison Officer (LO) Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Sulawesi Selatan Asmuddin. Hadir pula Kepala Bidang Mutu Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare Andi Fardani Wirawan.

Pelatihan PMKKA Parepare Libatkan 14 Komunitas Belajar

Pelaksanaan pelatihan PMKKA Parepare melibatkan 14 komunitas belajar yang tersebar di berbagai titik. Keterlibatan komunitas tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas akses pengembangan kompetensi guru.

Asmuddin mengatakan, pelatihan PMKKA diarahkan untuk membantu pendidik meningkatkan mutu pembelajaran. Proses tersebut perlu berangkat dari kondisi nyata yang terjadi di satuan pendidikan.

Menurut dia, guru perlu melihat berbagai data pendidikan sebagai bahan refleksi. Rapor pendidikan dan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dapat menjadi pijakan untuk memahami kondisi pembelajaran.

“Kita ingin membekali pendidikan kita untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan melihat rapor pendidikan dan hasil TKA yang cukup memprihatinkan. Kita ingin ruang kelas yang ideal dan positif, yang muaranya kepada peserta didik,” ujar Asmuddin.

Dari 14 komunitas belajar di Parepare, empat komunitas mendapat fasilitasi dari pihak provinsi. Sementara itu, komunitas lainnya memperoleh dukungan fasilitasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare.

Secara keseluruhan, kegiatan tersebut melibatkan 428 guru di Kota Parepare. Mereka mengikuti pelatihan untuk memperkuat kemampuan dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Guru Didorong Mengubah Pembelajaran di Ruang Kelas

Asmuddin berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda pelatihan. Ia ingin PMKKA menjadi titik simpul perubahan dalam proses pembelajaran di ruang kelas.

Karena itu, keberhasilan pelatihan tidak cukup dilihat dari kelengkapan administrasi. Dampak kegiatan harus terlihat melalui perubahan cara guru mengajar dan pengalaman belajar peserta didik.

Asmuddin juga mengapresiasi dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare. Dukungan tersebut dinilai penting untuk mengaktifkan komunitas belajar sebagai ruang pengembangan kompetensi guru.

Namun, ia mengakui belum seluruh komunitas belajar dapat memperoleh fasilitasi secara langsung.

“Semua komunitas terbuka peluang untuk belajar. Kita akan coba bersinergi melalui Hari Belajar Guru. Bagi guru yang belum tertangani, akan ada rapat koordinasi virtual untuk mengidentifikasi komunitas-komunitas yang belum terfasilitasi,” katanya.

Menurut Asmuddin, kesempatan belajar harus terbuka bagi seluruh guru. Dengan begitu, komunitas belajar dapat berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik pembelajaran.

Ia juga mengingatkan fasilitator agar menyampaikan materi secara tepat. Pelatihan sebaiknya tidak membuat guru merasa terbebani atau takut menghadapi perubahan teknologi.

Adriani Idrus: AI Tidak Menggantikan Peran Guru

Saat membuka kegiatan, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare Adriani Idrus menyoroti perkembangan kecerdasan artifisial atau AI dalam dunia pendidikan.

Adriani menegaskan bahwa perkembangan AI tidak akan menggantikan peran guru. Menurut dia, teknologi memiliki keterbatasan dalam membangun hubungan emosional dengan peserta didik.

“Kehadiran AI tidak menggantikan guru. Kelebihan guru, AI tidak punya hati. Guru bisa melakukan kontak mata dengan peserta didik. Dengan adanya kontak mata, semuanya bisa sampai ke hati yang tidak bisa diberikan oleh AI. Di situlah peran Bapak/Ibu guru,” tegas Adriani.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran. Guru tetap memegang peran utama dalam membangun interaksi, memberikan motivasi, serta memahami kebutuhan peserta didik.

Karena itu, penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan pedagogis dan karakter guru.

Tiga Pesan Adriani untuk Guru Peserta Pelatihan

Dalam kegiatan tersebut, Adriani menitipkan tiga pesan kepada para guru. Ia berharap pesan tersebut dapat menjadi bekal selama mengikuti pelatihan.

Pelatihan PMKKA Parepare Dorong Guru Terus Belajar

Pesan pertama berkaitan dengan kemauan untuk terus belajar. Adriani meminta guru tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kalau kita ikut diklat, jangan bilang saya sudah terlalu tua mengikuti diklat. Hilangkan dulu. Buka ruang di hati kita. Jangan merasa rendah dan jangan juga merasa tinggi karena sudah banyak tahu. Berada di tengah-tengah,” pesannya.

Ia juga mendorong kolaborasi antara guru senior dan guru muda. Guru senior dapat berbagi pengalaman dan menjadi sumber inspirasi.

Sebaliknya, guru muda dapat membawa energi serta perspektif baru dalam proses pembelajaran. Kolaborasi tersebut diharapkan menciptakan lingkungan belajar yang saling melengkapi.

Guru Diminta Berani Berpendapat

Pesan kedua adalah keberanian untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Adriani meminta guru tidak takut melakukan kesalahan selama proses belajar.

“Jangan takut salah, jangan takut berpendapat, jangan takut ngomong. Kalau kita salah, kan bisa diperbaiki,” ujarnya.

Menurut Adriani, keberanian tersebut berkaitan erat dengan kepercayaan diri. Guru perlu terus meningkatkan penguasaan pengetahuan dan kompetensi agar semakin percaya diri saat mengajar.

“Kalau mentalitas kita kurang percaya diri, susah. Berbeda kalau kita percaya diri mengajar anak didik. Kepercayaan diri akan muncul jika kita menguasai,” katanya.

Dengan penguasaan kompetensi yang lebih baik, guru diharapkan mampu menghadapi perubahan dalam dunia pendidikan. Termasuk ketika teknologi AI semakin banyak digunakan dalam proses pembelajaran.

Guru Harus Fokus pada Tujuan Pelatihan

Pesan ketiga adalah menjaga fokus terhadap tujuan utama pelatihan. Adriani mengingatkan peserta agar tidak kehilangan arah selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pelatihan harus menjadi ruang untuk memperkuat kemampuan berpikir logis. Selain itu, kegiatan tersebut perlu mendorong peningkatan kompetensi dan menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik.

“Saya berharap penuh keyakinan bahwa Bapak/Ibu adalah guru-guru pilihan dan mampu memberikan pembelajaran yang menyenangkan. Kuatkan stamina, fokus, dan saling mendukung,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa peningkatan kompetensi guru pada akhirnya harus memberikan manfaat langsung bagi peserta didik.

PMKKA Diharapkan Berdampak pada Kualitas Pendidikan

Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial di Parepare menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru menghadapi perubahan pendidikan.

Kehadiran teknologi AI memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pendidik. Guru perlu memahami teknologi tanpa kehilangan peran utama sebagai pendamping dan pembimbing peserta didik.

Di sisi lain, komunitas belajar dapat menjadi ruang strategis untuk mempercepat pertukaran pengetahuan. Melalui kolaborasi, guru dapat saling berbagi pengalaman dan menemukan solusi atas persoalan pembelajaran.

Dengan melibatkan 428 guru dari 14 komunitas belajar, kegiatan ini memiliki potensi untuk memberikan dampak lebih luas. Namun, dampak tersebut akan sangat bergantung pada penerapan hasil pelatihan di ruang kelas.

Karena itu, pesan utama kegiatan bukan hanya tentang penguasaan koding dan AI. Pelatihan juga menekankan pentingnya pembelajaran mendalam, keberanian belajar, kolaborasi, serta kemampuan guru memahami kebutuhan peserta didik.

Pelatihan PMKKA Parepare diikuti 428 guru dari 14 komunitas belajar di Kota Parepare. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kompetensi pendidik melalui Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial.

Adriani Idrus menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan guru. Teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi guru tetap memiliki peran penting dalam membangun hubungan emosional dengan peserta didik.

Sementara itu, Asmuddin mendorong agar hasil pelatihan benar-benar terlihat dalam proses pembelajaran. Dengan kolaborasi komunitas belajar dan penerapan kompetensi di ruang kelas, pelatihan PMKKA Parepare diharapkan mampu mendorong perubahan nyata dalam kualitas pendidikan di Kota Parepare.

Adriani pun menutup sambutannya dengan mengajak para guru terus belajar dan berkarya.

“Selamat belajar dan berkarya dan selamat menjadi guru masa depan,” tutupnya. (*)


Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan keterangan yang diterima redaksi. Setiap informasi telah disajikan secara proporsional untuk memberikan konteks kepada pembaca. Redaksi terbuka terhadap koreksi atau informasi tambahan apabila terdapat data yang perlu diperbarui.

Berita Terkait