PAREPARE, INTERAKSINEWS.ID – Kasus viral dugaan percobaan gantung diri di Cafe Alya Parepare akhirnya terungkap. Fakta terbaru menunjukkan bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung menyesatkan.
Peristiwa yang melibatkan seorang warga berinisial RS ini sebelumnya memicu spekulasi luas, termasuk narasi mistis yang berkembang tanpa dasar yang jelas. Namun, klarifikasi resmi yang disampaikan langsung oleh RS membalik persepsi publik.
RS Bantah Dugaan Percobaan Gantung Diri
Dalam keterangannya di Cafe Alya, Jalan Mattirotasi, Kecamatan Bacukiki Barat, Sabtu (2/5/2026), RS menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri.
“Saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, termasuk pihak Cafe Alya atas kejadian ini yang sempat viral. Tidak benar saya melakukan percobaan gantung diri,” ujar RS.
Ia juga secara tegas membantah isu adanya bisikan mistis yang disebut-sebut menjadi pemicu kejadian tersebut. Menurutnya, narasi yang berkembang telah jauh menyimpang dari fakta.
Perspektif Medis: Gangguan Psikologis, Bukan Mistis
Penjelasan krusial datang dari psikiater RSUD Andi Makassau Parepare, dr. Arman Sp.KJ. Ia menekankan bahwa kondisi RS berkaitan dengan tekanan emosional yang memicu gangguan psikologis.
Menurutnya, gejala seperti halusinasi pendengaran bisa muncul dalam kondisi tertentu dan sering disalahartikan oleh masyarakat sebagai fenomena mistis.
“Dalam dunia medis, ini dikenal sebagai gangguan psikologis. Secara luar terlihat normal, namun di dalam mengalami tekanan berat. Halusinasi pendengaran bisa terjadi, dan ini bukan hal mistis,” jelas dr. Arman.
Penjelasan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa literasi kesehatan mental di masyarakat masih perlu diperkuat, agar tidak mudah terjebak dalam asumsi yang keliru.
Polisi Pastikan Tidak Ada Unsur Kriminal
Dari sisi penegakan hukum, Kapolsek Bacukiki AKP Bustan memastikan bahwa tidak ditemukan unsur kriminal dalam kejadian tersebut.
Ia menjelaskan bahwa laporan diterima pada Minggu malam (28/4/2026) sekitar pukul 21.00 Wita. Saat ditemukan, RS berada di lantai 4 dalam kondisi linglung, tanpa indikasi tindakan berbahaya.
“Tidak ada tanda kekerasan atau unsur kriminal. Yang bersangkutan langsung dievakuasi ke rumah sakit untuk penanganan medis,” ungkap Bustan.
Hasil pemeriksaan di lokasi juga tidak menemukan alat atau indikasi yang mengarah pada upaya membahayakan diri.
Bahaya Disinformasi dan Stigma Kesehatan Mental
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana disinformasi dapat berkembang lebih cepat daripada fakta. Narasi mistis yang tidak berdasar justru memperkeruh situasi dan berpotensi memperburuk kondisi individu yang sedang mengalami tekanan psikologis.
Di sisi lain, respons publik yang cenderung menghakimi menunjukkan masih kuatnya stigma terhadap gangguan mental. Padahal, pendekatan yang dibutuhkan adalah empati, dukungan, dan pemahaman.
Mengacu pada literatur kesehatan global seperti yang dijelaskan oleh World Health Organization, gangguan mental merupakan kondisi medis yang dapat ditangani jika mendapatkan intervensi yang tepat.
Pentingnya Edukasi dan Empati
Dengan adanya klarifikasi ini, semua pihak berharap masyarakat lebih bijak dalam menyaring informasi sebelum menyebarkannya.
Lebih dari itu, kasus ini menjadi momentum penting untuk mendorong kesadaran kolektif tentang kesehatan mental, bahwa tidak semua hal yang tidak dipahami harus dikaitkan dengan hal mistis.
Dukungan sosial, bukan stigma, adalah kunci utama pemulihan.
No posts found











