Interaksinews.id, Jakarta — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta mahasiswa tidak terprovokasi saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Rabu (15/7). Pesan tersebut disampaikan setelah acara sempat diinterupsi dua mahasiswa yang membawa megafon dan menyampaikan orasi mengenai situasi di Papua.
Baca Juga : Tabung Merah Putih: Panduan Lengkap Pengganti LPG 3 Kg Berbasis CNG
Kuliah umum bertajuk Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan itu dihadiri ratusan mahasiswa, pimpinan kampus, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Di tengah pemaparan materi, dua mahasiswa memasuki auditorium dan menyuarakan aspirasi terkait Papua.
Aksi tersebut sempat memicu ketegangan di dalam ruangan. Beberapa peserta terdengar meneriakkan agar kedua mahasiswa turun dari auditorium.
Namun, Amran memilih merespons dengan cara berbeda. Ia meminta ajudannya membawa mahasiswa yang berorasi mendekat ke panggung agar dapat berdialog secara langsung.
Baca Juga : Hari Bhayangkara ke-80: Sejarah, Makna, Tema, dan Peran Polri untuk Indonesia
Amran Minta Mahasiswa Tidak Terprovokasi dan Mengutamakan Dialog
Dari atas podium, Amran menegaskan pentingnya komunikasi antara pemerintah dan generasi muda. Menurut dia, mahasiswa merupakan harapan bangsa yang akan melanjutkan perjuangan Indonesia di masa depan.
“Anak-anakku, kita harus komunikasi. Kalian yang akan melanjutkan perjuangan Republik Indonesia. Kalian adalah harapan bangsa,” kata Amran.
Ia juga mengingatkan bahwa pejabat negara memiliki masa tugas terbatas, sementara generasi muda akan menjadi penerus pembangunan nasional.
Sikap tersebut membuat suasana auditorium perlahan kembali kondusif. Dialog kemudian berlangsung tanpa insiden lanjutan.
Baca Juga : 17.600 Motor Listrik BGN Jadi Kendaraan Guru Honorer? Simak Fakta Lengkapnya
Kritik Dianggap Bagian dari Proses Demokrasi
Setelah situasi mereda, Amran melanjutkan kuliah umum sambil menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar siap menghadapi kritik, hinaan, bahkan fitnah apabila ingin meraih keberhasilan.
“Kalau mau berhasil, Anda siap dikritik, siap dihina, siap difitnah. Orang sukses adalah yang mendapatkan tekanan tinggi,” ujarnya.
Amran menilai interupsi yang terjadi merupakan bagian dari ruang demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat. Ia meminta peserta lain tidak memandang aksi tersebut sebagai sesuatu yang sepenuhnya salah.
Menurutnya, mahasiswa yang menyampaikan protes juga memiliki niat agar Indonesia menjadi lebih baik.
“Mari kita buka-bukaan. Anak-anak kita tadi yang berteriak pasti ingin Republik ini lebih baik,” katanya.
Dialog Langsung dengan Mahasiswa
Usai acara, Amran mengaku tidak mempermasalahkan aksi interupsi tersebut. Ia justru mengapresiasi kritik yang disampaikan selama dilakukan secara konstruktif dan berdasarkan fakta.
“Itu sangat bagus. Yang penting konstruktif. Kita harus mendengarkan aspirasi,” ujar Amran kepada wartawan.
Ia kemudian berdialog langsung dengan kedua mahasiswa setelah kuliah umum selesai. Dalam pertemuan tersebut, Amran menjelaskan berbagai kebijakan pemerintah menggunakan data dan fakta.
Menurutnya, penjelasan tersebut membuat mahasiswa memahami konteks yang disampaikan pemerintah.
“Kami jelaskan pakai data, bukan narasi kosong. Dan mereka langsung paham,” tuturnya.
Amran bahkan mengaku terharu karena beberapa mahasiswa menunjukkan respons emosional setelah mendapatkan penjelasan terkait capaian pemerintah.
Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Pengertian, Tujuan, Manfaat dan 5 Poin Dampaknya
Pembahasan Tidak Hanya Soal Papua
Dalam dialog yang berlangsung lebih dari 15 menit itu, pembahasan tidak hanya menyentuh isu Papua. Para mahasiswa juga mengajukan pertanyaan mengenai sektor pertanian.
Beberapa topik yang dibahas antara lain:
- Ketimpangan yang dialami petani
- Kebijakan komoditas kedelai
- Upaya meningkatkan kesejahteraan petani
- Program swasembada pangan nasional
Amran menilai diskusi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki perhatian terhadap persoalan strategis bangsa, termasuk sektor pertanian.
Baca Juga : Merah Putih Berkibar di Laut Samalona
Pesan untuk Generasi Muda
Di akhir keterangannya, Amran kembali menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari narasi yang dapat memecah belah masyarakat.
“Kita butuh kritikan, tapi konstruktif. Jangan fitnah. Jangan membuat narasi yang ingin menjatuhkan atau merusak tatanan negara kita. Kita harus berjuang bersama,” tegasnya.
Acara kuliah umum akhirnya ditutup sesuai agenda yang telah dijadwalkan. Setelah sempat diwarnai interupsi, kegiatan berlangsung kembali dengan tertib dan diakhiri dialog terbuka antara Menteri Pertanian dan mahasiswa.
Peristiwa di Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan dialog. Amran minta mahasiswa tidak terprovokasi serta mengedepankan penyampaian kritik secara konstruktif dan berbasis fakta. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga ruang demokrasi di lingkungan kampus sekaligus memperkuat semangat bersama membangun Indonesia.

















