Program Literasi Al-Qur’an TSM Parepare Dimulai Sebelum Pembelajaran
Disdikbud Kota Parepare menetapkan waktu pelaksanaan TSM pada awal jam pembelajaran. Program dijadwalkan berlangsung selama 30 menit, mulai pukul 07.30 hingga 08.00 WITA sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Pengaturan waktu tersebut memberikan ruang khusus bagi kegiatan literasi Al-Qur’an tanpa mengganggu rangkaian pembelajaran utama. Murid mengikuti kegiatan sesuai jenjang dan kemampuan yang telah dipetakan oleh sekolah.
Dalam penerapannya, kepala sekolah, guru agama Islam, wali kelas, dan guru bidang studi diharapkan memahami peran masing-masing. Kesamaan pemahaman antarunsur sekolah menjadi penting agar program berjalan konsisten dan tidak berbeda jauh antara satu satuan pendidikan dengan lainnya.
Selain aspek teknis, penerapan TSM membawa tujuan yang lebih luas, yakni membangun kebiasaan positif di lingkungan pendidikan. Pembiasaan membaca Al-Qur’an sejak usia sekolah diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pembentukan sikap dan karakter murid.
Adriani menyebut program tersebut diarahkan untuk membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam yang kuat. Sasaran itu mencakup keimanan, pengetahuan, akhlak, serta kondisi fisik dan mental yang baik.
Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan arah Pemerintah Kota Parepare dalam memperkuat pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Sejumlah program keagamaan telah berjalan dan menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter.
Di antaranya terdapat Safari Dakwah dan program Religiusitas SMP. Kehadiran TSM menambah pendekatan pembiasaan yang secara khusus menyasar kemampuan literasi Al-Qur’an murid SD dan SMP.
Pendidikan karakter dan kemampuan membaca Al-Qur’an ditempatkan sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Kemampuan membaca dengan baik diharapkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi juga mendorong murid memahami dan menerapkan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, keberhasilan program nantinya tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya murid yang mengikuti kegiatan. Kemajuan kemampuan membaca, ketepatan penerapan tajwid, perkembangan hafalan, serta pembiasaan perilaku positif menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Keterlibatan berbagai unsur sekolah menjadi faktor penting dalam penerapan TSM. Guru agama Islam memiliki peran utama dalam memberikan pembelajaran, sementara kepala sekolah dan unsur pendidik lainnya mendukung terciptanya lingkungan yang konsisten.
Dengan jadwal yang ditempatkan pada awal pembelajaran, sekolah memiliki kesempatan membangun rutinitas sejak pagi. Pola tersebut juga dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih tertib sebelum murid mengikuti pelajaran sesuai jadwal.
Di sisi lain, penerapan program secara berjenjang memungkinkan sekolah menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid. Target yang realistis dan sesuai kemampuan menjadi kunci agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Disdikbud Kota Parepare akan memperkuat pelaksanaan melalui surat edaran resmi. Dengan adanya pedoman tersebut, sekolah memiliki acuan yang lebih jelas dalam menjalankan TSM.
Jika berjalan sesuai rencana, program ini akan menjadi salah satu bagian dari kebijakan pendidikan Kota Parepare dalam memperkuat literasi Al-Qur’an sekaligus pendidikan karakter. Pelaksanaannya tetap membutuhkan konsistensi sekolah, kemampuan pendampingan guru, serta dukungan lingkungan pendidikan agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
Pada akhirnya, Program Literasi Al-Qur’an TSM Parepare diharapkan tidak hanya menghasilkan murid yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga membangun kebiasaan belajar, kedisiplinan, dan karakter yang tumbuh melalui proses pendidikan sehari-hari.
(MS Journal)















