Interaksinews.id, Parepare — Pemerintah Kota Parepare bersama Pertamina melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke sejumlah pangkalan LPG 3 kg Parepare, Selasa (4/8/2026). Pengawasan ini bertujuan memastikan distribusi gas subsidi tetap lancar dan tepat sasaran.
Sidak berlangsung di tengah meningkatnya kebutuhan LPG selama musim kemarau. Pemerintah menduga kenaikan permintaan tidak hanya berasal dari rumah tangga dan usaha mikro, tetapi juga petani yang menggunakan gas untuk mengoperasikan pompa air irigasi.
Sidak dipimpin langsung Sekretaris Daerah Kota Parepare, Amarun Agung Hamka. Ia didampingi Kepala Dinas Perdagangan Parepare Andi Wisna serta SBM Sulselbar VII Gas Pertamina, Mulian Pratama.
Distribusi LPG 3 Kg Parepare Dipantau Selama Sepekan
Pemerintah Kota Parepare memastikan pengawasan distribusi LPG tidak berhenti pada sidak di pangkalan. Pemantauan akan berlangsung selama satu pekan dan mencakup seluruh rantai distribusi.
Rantai tersebut meliputi Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), agen, pangkalan hingga pengecer. Langkah itu dilakukan untuk menemukan titik persoalan apabila masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan LPG subsidi.
Amarun Agung Hamka mengatakan pemerintah akan memantau distribusi LPG setiap hari.
“Dalam satu minggu ini kami akan terus melakukan pengawasan dan melihat distribusi dari SPBE ke agen, ke pangkalan hingga pengecer, sehingga kami bisa mengetahui di mana sebenarnya persoalan terjadi jika ada kendala,” kata Hamka.
Berdasarkan pemantauan sementara, distribusi LPG di Parepare masih berjalan normal. Pemerintah juga belum menemukan persoalan besar yang dapat mengganggu pasokan masyarakat.
Meski demikian, tingginya kebutuhan membuat pemerintah dan Pertamina tetap memperketat pengawasan. Pemerintah ingin memastikan LPG subsidi yang masuk ke Parepare benar-benar sampai kepada konsumen sesuai ketentuan.
Stok LPG 3 Kg Parepare Masih Aman
Pemerintah Kota Parepare menyebut stok LPG subsidi masih dalam kondisi aman. Saat ini, alokasi normal LPG di wilayah tersebut mencapai sekitar 7.240 tabung per hari.
Hamka menjelaskan, kenaikan kebutuhan kemungkinan berkaitan dengan kondisi musim kemarau. Pada periode tersebut, sebagian petani membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan pompa air yang digunakan mengairi lahan pertanian.
“Sebenarnya stok aman dan kami terus memantau proses distribusi setiap hari. Saat ini alokasi LPG di Parepare sekitar 7.240 tabung per hari,” ujar Hamka.
Pemerintah akan mengambil langkah tambahan apabila kebutuhan terus meningkat. Salah satunya dengan mengusulkan penambahan kuota kepada pihak terkait.
Kebijakan tersebut menjadi penting untuk menjaga ketersediaan LPG subsidi ketika permintaan meningkat.
Dengan pengawasan dari tingkat SPBE hingga pengecer, pemerintah berharap masyarakat tidak mengalami kelangkaan maupun kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram.
Pasokan LPG Parepare Naik Menjadi 7.800 Tabung
Pertamina juga melakukan penyesuaian pasokan untuk merespons peningkatan permintaan. Dalam tiga hari terakhir, pasokan LPG untuk Parepare meningkat dari sekitar 7.240 tabung menjadi 7.800 tabung per hari.
SBM Sulselbar VII Gas Pertamina Mulian Pratama mengatakan peningkatan tersebut merupakan respons terhadap permintaan yang cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami melihat permintaan cukup tinggi dalam beberapa minggu terakhir, kemungkinan terdampak musim kemarau,” katanya.
Pertamina secara rutin melakukan monitoring di SPBE, agen dan pangkalan. Pengawasan tersebut bertujuan memastikan proses distribusi berjalan sesuai alokasi dan tidak menimbulkan gangguan pasokan.
Petani Ikut Mendorong Kenaikan Permintaan LPG
Peningkatan konsumsi LPG tidak hanya terjadi pada sektor rumah tangga dan usaha mikro. Pertamina juga menemukan penggunaan LPG oleh sebagian petani untuk mengoperasikan mesin pompa air.
Kondisi tersebut muncul karena LPG dianggap lebih ekonomis dibandingkan bahan bakar minyak untuk kebutuhan tertentu. Petani menilai penggunaan gas dapat membuat biaya operasional lebih rendah dan waktu penggunaan mesin lebih panjang.
Namun, penggunaan LPG subsidi untuk sektor pertanian memiliki ketentuan khusus. Berdasarkan regulasi pemerintah, LPG subsidi untuk kebutuhan pertanian hanya diperbolehkan bagi petani sasaran yang menerima bantuan konverter kit BBM ke BBG dari pemerintah.
Mulian mengatakan masih terdapat petani yang melakukan konversi secara mandiri. Kondisi itu kemudian ikut meningkatkan permintaan LPG subsidi di lapangan.
“Banyak petani yang menggunakan LPG untuk pompa air karena dinilai lebih hemat, waktu operasionalnya lebih lama, dan biayanya lebih murah dibandingkan BBM,” ungkapnya.
Fenomena tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengawasan distribusi LPG 3 kg Parepare. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan peningkatan kebutuhan tidak mengurangi akses masyarakat yang menjadi sasaran utama LPG subsidi.
Pertamina Larang LPG Subsidi Keluar Wilayah
Selain memantau ketersediaan stok, Pertamina juga menelusuri kemungkinan adanya LPG subsidi yang keluar dari wilayah distribusi Parepare.
Mulian menegaskan bahwa penyaluran LPG subsidi harus mengikuti wilayah alokasi yang telah ditetapkan. Karena itu, LPG yang dialokasikan untuk Parepare tidak boleh disalurkan ke luar wilayah tersebut.
“Secara ketentuan, penyaluran LPG tidak boleh keluar dari wilayah distribusi atau kota dan kabupaten yang menjadi wilayah alokasinya. Saat ini kami masih melakukan penelusuran dan koordinasi terkait indikasi adanya barang yang keluar daerah,” jelas Mulian.
Pertamina bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum akan terus berkoordinasi. Langkah tersebut bertujuan menjaga distribusi LPG subsidi agar tetap sesuai aturan.
Pengawasan lintas sektor juga diperlukan untuk mencegah penyimpangan distribusi dan menjaga ketersediaan LPG bagi masyarakat sasaran.
Pangkalan Diminta Prioritaskan Konsumen Langsung
Pengawasan juga mencakup penyaluran LPG melalui pengecer. Mulian menjelaskan bahwa regulasi masih memperbolehkan pengecer terdaftar menerima sekitar 10 persen dari alokasi pangkalan.
Namun, Pertamina mengimbau pangkalan agar tetap memprioritaskan konsumen langsung. Rumah tangga dan usaha mikro menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyaluran LPG subsidi.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga akses masyarakat terhadap LPG 3 kilogram. Selain itu, pengawasan di tingkat pangkalan dapat membantu pemerintah mengetahui kondisi pasokan secara lebih cepat.
Pemerintah juga dapat menggunakan hasil pemantauan tersebut sebagai dasar evaluasi apabila kebutuhan LPG terus meningkat. Jika peningkatan terjadi secara konsisten, usulan tambahan kuota dapat menjadi salah satu opsi.
Harga LPG 3 Kg di Parepare Masih Bervariasi
Di tengah pengawasan distribusi, masyarakat juga merasakan adanya variasi harga LPG 3 kilogram. Salah seorang warga Parepare, Rahim, mengatakan dirinya masih dapat membeli LPG secara langsung di pangkalan.
Namun, harga yang ia bayarkan tidak selalu sama.
“Kadang saya beli Rp18.500 per tabung, kadang juga sampai Rp20.000 per tabung,” kata Rahim.
Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan distribusi LPG subsidi. Pemerintah perlu memastikan masyarakat mendapatkan LPG sesuai ketentuan harga dan mekanisme penyaluran yang berlaku.
Dengan demikian, pengawasan tidak hanya berfokus pada ketersediaan stok. Pemerintah juga perlu memastikan distribusi berlangsung transparan dan tepat sasaran.
Pengawasan Berlanjut untuk Jaga Pasokan LPG
Sidak yang dilakukan Pemkot Parepare dan Pertamina menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan LPG subsidi. Pengawasan akan berlanjut dari tingkat SPBE, agen, pangkalan hingga pengecer.
Kondisi musim kemarau menjadi salah satu faktor yang ikut meningkatkan permintaan. Penggunaan LPG untuk pompa air pertanian menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, Pertamina telah meningkatkan pasokan menjadi 7.800 tabung per hari dalam tiga hari terakhir. Pemerintah juga membuka peluang mengusulkan tambahan kuota jika kebutuhan terus meningkat.
LPG 3 kg Parepare masih dalam kondisi aman berdasarkan pemantauan sementara Pemkot Parepare dan Pertamina. Namun, pemerintah tetap memperketat pengawasan karena permintaan meningkat selama musim kemarau.
Pasokan LPG untuk Parepare telah dinaikkan dari sekitar 7.240 menjadi 7.800 tabung per hari. Pemerintah juga akan memantau distribusi selama sepekan untuk memastikan LPG subsidi sampai kepada masyarakat yang berhak.
Selain menjaga ketersediaan, pengawasan juga menyasar potensi penyaluran LPG keluar wilayah serta penggunaan oleh sektor pertanian. Jika kebutuhan terus meningkat, Pemkot Parepare akan mempertimbangkan usulan penambahan kuota kepada pihak terkait.(MS Journal)

















