Ada sejumlah sikap sederhana yang dapat diterapkan bersama, antara lain:
- Tidak menjadikan kekurangan fisik atau pribadi teman sebagai bahan ejekan.
- Tidak ikut menertawakan siswa yang sedang dipermalukan.
- Tidak menyebarkan foto, video, atau pesan yang dapat merugikan orang lain.
- Berani menyampaikan persoalan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
- Memberikan dukungan kepada teman yang mengalami perundungan.
- Menyelesaikan konflik tanpa ancaman maupun kekerasan.
Langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat membentuk budaya sekolah yang lebih sehat. Ketika siswa saling menghargai dan berani menolak perundungan, peluang terjadinya tindakan berulang dapat ditekan.
Pada akhirnya, ukuran sebuah candaan bukan hanya dari niat orang yang mengucapkannya, tetapi juga dari dampaknya terhadap orang lain. Sesuatu yang dianggap lucu oleh pelaku belum tentu ringan bagi siswa yang menjadi sasaran.
Karena itu, pencegahan perundungan perlu menjadi kepedulian bersama. Sekolah, guru, orang tua, kepolisian, dan terutama para pelajar memiliki peran untuk memastikan tidak ada siswa yang merasa sendirian ketika menghadapi perundungan.
Edukasi di SMP Negeri 7 Parepare menjadi pengingat bahwa persoalan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka. Bullying bukan kebiasaan yang harus ditoleransi, melainkan perilaku yang perlu dikenali, dicegah, dan dihentikan sejak awal.
(MS Journal)















