Parepare

Tasming Hamid Dorong Kemandirian WBP melalui Program Ketahanan Pangan di Parepare

Interaksinews.id, Parepare — Wali Kota Parepare Tasming Hamid menghadiri launching proyek perubahan yang digelar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Parepare, Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan program pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Launching yang berlangsung di Lapas Kelas IIA Parepare mulai pukul 09.00 WITA itu mengusung proyek perubahan berjudul “Transformasi Pembinaan Kemandirian WBP melalui Ekosistem Ketahanan Pangan Cerdas Berkelanjutan.”

Program tersebut diarahkan untuk menghadirkan pola pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aktivitas selama WBP menjalani masa pidana, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang dapat digunakan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Kehadiran Tasming Hamid dalam kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan dukungan Pemerintah Kota Parepare terhadap upaya pemasyarakatan yang mendorong produktivitas dan kemandirian WBP.

Melalui proyek perubahan tersebut, Lapas Kelas IIA Parepare berupaya mengembangkan kegiatan pembinaan yang lebih produktif dengan memanfaatkan sektor ketahanan pangan.

Pendekatan ini menempatkan keterampilan sebagai bagian penting dalam proses pembinaan. Dengan demikian, WBP tidak hanya menjalani kegiatan rutin, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang memiliki nilai praktis.

Pembinaan kemandirian WBP menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.

Dalam konteks itu, pengembangan kegiatan berbasis pangan dapat menjadi sarana untuk mengenalkan keterampilan produktif sekaligus membangun kebiasaan bekerja secara terarah.

Program tersebut juga dirancang dengan konsep berkelanjutan. Artinya, kegiatan yang dilakukan selama masa pembinaan diharapkan dapat memberikan bekal yang tetap relevan ketika WBP kembali menjalani kehidupan di masyarakat.

Tasming Hamid Dorong Keterampilan Produktif WBP

Dukungan Tasming Hamid terhadap kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam memperkuat proses pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.

Kolaborasi antara Pemerintah Kota Parepare dan Lapas Kelas IIA Parepare dapat membuka ruang bagi pengembangan program yang lebih terintegrasi. Terlebih, pembinaan WBP membutuhkan dukungan berbagai pihak agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti ketika masa pembinaan berakhir.

Dalam kegiatan itu, proyek perubahan diarahkan untuk membangun ekosistem ketahanan pangan cerdas berkelanjutan sebagai salah satu instrumen pembinaan.

Konsep tersebut menggabungkan kegiatan produktif dengan upaya membangun keterampilan di sektor pangan. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih aktif, terarah, dan memberikan pengalaman praktis kepada WBP.

Pemanfaatan sektor pangan dalam program pembinaan memberikan ruang bagi WBP untuk belajar melalui kegiatan yang bersifat produktif.

Kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta keterampilan teknis. Nilai-nilai itu penting sebagai bekal ketika warga binaan kembali berinteraksi dan beraktivitas di tengah masyarakat.

Ekosistem ketahanan pangan cerdas berkelanjutan juga diarahkan agar kegiatan pembinaan memiliki manfaat yang lebih panjang.

Selain menjadi aktivitas selama menjalani masa pembinaan, program tersebut diharapkan dapat memperkenalkan keterampilan yang berpotensi dikembangkan setelah WBP kembali ke lingkungan masing-masing.

Karena itu, keberhasilan program tidak hanya dapat dilihat dari pelaksanaan kegiatan di dalam Lapas. Keberlanjutan, pemanfaatan keterampilan, serta dukungan setelah warga binaan kembali ke masyarakat juga menjadi bagian penting dalam melihat dampaknya.

Pembinaan warga binaan pada dasarnya membutuhkan dukungan lintas sektor. Pemerintah daerah dapat berperan melalui dukungan kebijakan dan program yang relevan, sementara Lapas menjalankan fungsi pembinaan sesuai dengan tugas dan kewenangannya.

Dalam konteks Parepare, sinergi antara Pemerintah Kota Parepare dan Lapas Kelas IIA Parepare dapat menjadi ruang untuk mengembangkan program pembinaan yang lebih terarah.

Kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar pembinaan tidak berhenti di dalam lingkungan Lapas, tetapi memiliki kesinambungan ketika WBP kembali ke masyarakat.

Dukungan tersebut juga dapat memperkuat keterhubungan antara keterampilan yang diperoleh selama pembinaan dengan kebutuhan kehidupan setelah masa pidana selesai.

Dengan pendekatan seperti itu, kegiatan pembinaan dapat diarahkan bukan sekadar sebagai aktivitas pengisi waktu, melainkan sebagai proses mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan secara produktif.

Proyek perubahan yang diluncurkan Lapas Kelas IIA Parepare membawa gagasan untuk menjadikan ketahanan pangan sebagai bagian dari proses membangun kemandirian WBP.

Program ini diharapkan memberikan pengalaman langsung kepada warga binaan dalam menjalankan kegiatan produktif. Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu modal ketika mereka kembali menjalani kehidupan di luar Lapas.

Pada saat yang sama, program berbasis ketahanan pangan juga memiliki peluang untuk dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan lingkungan pembinaan.

Kehadiran Tasming Hamid dalam launching tersebut memperkuat pesan bahwa pembinaan WBP dapat membutuhkan dukungan bersama antara pemerintah daerah, institusi pemasyarakatan, dan unsur masyarakat.

Ke depan, kesinambungan kerja sama menjadi salah satu faktor penting agar program pembinaan dapat memberikan manfaat secara lebih luas.

Dengan demikian, launching proyek “Transformasi Pembinaan Kemandirian WBP melalui Ekosistem Ketahanan Pangan Cerdas Berkelanjutan” bukan hanya menandai dimulainya sebuah program. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun pola pembinaan yang menempatkan keterampilan, produktivitas, dan kemandirian sebagai unsur penting dalam proses reintegrasi sosial.

Bagi Parepare, penguatan kolaborasi semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan pembinaan yang lebih berkelanjutan. Pada akhirnya, keterampilan yang diperoleh WBP diharapkan dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.

(MS Journal)


Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan keterangan yang diterima redaksi. Setiap informasi telah disajikan secara proporsional untuk memberikan konteks kepada pembaca. Redaksi terbuka terhadap koreksi atau informasi tambahan apabila terdapat data yang perlu diperbarui.

Berita Terkait