Interaksinews.id, Parepare — Sawah Watang Bacukiki menjadi salah satu kawasan pertanian yang mendapat perhatian karena memiliki sumber air yang dinilai mampu mendukung produktivitas lahan. Potensi tersebut semakin penting di tengah ancaman dampak El Nino yang dapat memengaruhi sektor pertanian.
Kapolres Parepare AKBP Phunky Mahendra Borniawan meninjau kawasan persawahan tersebut bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan Kementerian Pertanian. Peninjauan itu menjadi bagian dari upaya melihat langsung potensi pertanian yang dapat dikembangkan di Kota Parepare.
Dari sekitar 743 hektare lahan persawahan di Kota Parepare, terdapat sekitar 2 hektare lahan yang memiliki sistem pengairan cukup baik. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mengembangkan pengelolaan pertanian yang lebih produktif.
Kawasan itu bahkan berpeluang menjadi lokasi percontohan pengelolaan pertanian, baik untuk Sulawesi Selatan maupun pada tingkat nasional. Pengembangan tersebut dapat diarahkan untuk meningkatkan hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Sawah Watang Bacukiki Memiliki Keunggulan Sumber Air
Keberadaan sumber air menjadi salah satu faktor utama yang membuat kawasan persawahan Watang Bacukiki memiliki potensi untuk dikembangkan. Air yang tersedia membuat kondisi lahan tetap basah dan mendukung kegiatan budidaya pertanian.
Kapolres Parepare AKBP Phunky Mahendra Borniawan menyampaikan temuan tersebut saat menghadiri kegiatan silaturahmi bersama insan pers di Parepare, Selasa, 18 Agustus 2026.
“Dari 743 hektare wilayah sawah, ada 2 hektare sawah yang pengairannya bagus yang tadi kami lihat bersama perwakilan dari Kementerian Pertanian,” kata Phunky.
Menurut dia, kondisi pengairan tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi kawasan pertanian Watang Bacukiki. Potensi itu perlu mendapat perhatian agar pemanfaatan sumber daya lokal dapat memberikan hasil yang lebih optimal.
Pengelolaan sumber air secara tepat juga dapat membantu petani menghadapi tantangan perubahan kondisi cuaca. Karena itu, pemanfaatan lahan dan pengairan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
Selain memperhatikan ketersediaan air, pengembangan kawasan tersebut membutuhkan pengelolaan yang terencana. Pendekatan itu dapat mencakup peningkatan teknik budidaya, optimalisasi lahan, serta pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.
Produktivitas Sawah Parepare Ditargetkan Meningkat
Saat ini, produktivitas lahan di kawasan tersebut berada di kisaran 5,5 ton per hektare. Angka itu dinilai masih memiliki ruang untuk ditingkatkan melalui pengelolaan pertanian yang lebih optimal.
Pada Kegiatan Silaturahmi dan Makan Bersama Awak Media Parepare, Phunky mengatakan, kondisi sumber air yang tersedia membuka peluang untuk mendorong peningkatan hasil panen secara signifikan. Target tersebut menjadi salah satu alasan kawasan sawah Watang Bacukiki dinilai layak mendapatkan perhatian lebih lanjut.
“Ternyata di sana ada sumber air yang memang membuat lahan itu menjadi basah. Ke depannya, hasil panen yang tadinya sekitar 5,5 ton per hektare, insyaallah akan digenjot menjadi 10 ton per hektare,” ujarnya kepada awak media .
Target peningkatan dari 5,5 ton menjadi 10 ton per hektare menunjukkan adanya potensi peningkatan produktivitas lahan. Namun, pencapaian target tersebut tetap membutuhkan pengelolaan yang tepat serta dukungan berbagai pihak.
Sawah Watang Bacukiki dan Target Panen 10 Ton
Upaya meningkatkan hasil panen tidak hanya bergantung pada ketersediaan air. Faktor lain seperti teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pengelolaan lahan, serta dukungan sarana pertanian juga memiliki peran penting.
Karena itu, pengembangan kawasan percontohan dapat menjadi kesempatan untuk menguji pengelolaan pertanian secara lebih terarah. Hasil dari pengembangan tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat metode yang paling efektif.
Jika produktivitas dapat meningkat secara konsisten, kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap sektor pertanian di Parepare. Selain meningkatkan hasil produksi, pengelolaan yang baik dapat memperkuat pemanfaatan sumber daya lokal.
Potensi tersebut juga menjadi penting karena ketahanan pangan membutuhkan dukungan dari berbagai sektor. Ketersediaan lahan produktif dan sumber air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Potensi Pertanian untuk Memperkuat Ketahanan Pangan
Pengembangan kawasan persawahan Watang Bacukiki tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi. Lebih jauh, kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan pertanian yang mampu mengoptimalkan sumber daya lokal.
Konsep percontohan pertanian dapat memberikan manfaat bagi petani dan pemangku kepentingan. Kawasan yang memiliki kondisi pengairan baik dapat menjadi tempat untuk menerapkan pendekatan pertanian yang lebih produktif dan terukur.
Dalam konteks Kota Parepare, optimalisasi lahan pertanian juga memiliki arti penting. Lahan yang produktif dapat mendukung ketersediaan pangan sekaligus memperkuat sektor pertanian di tengah berbagai tantangan lingkungan.
Ancaman El Nino menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan pertanian. Kondisi cuaca yang dapat memengaruhi ketersediaan air membuat kawasan dengan sumber air yang relatif mendukung memiliki nilai strategis.
Karena itu, potensi sumber air di Watang Bacukiki perlu dikelola secara optimal. Pengelolaan tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah daerah, aparat terkait, Kementerian Pertanian, petani, dan pihak lainnya.
Pengembangan kawasan juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan. Peningkatan produksi sebaiknya berjalan seiring dengan pemanfaatan sumber daya air dan lahan secara bijaksana.
Phunky menegaskan bahwa potensi tersebut perlu mendapat dorongan bersama agar dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih besar.
“Ini menjadi potensi yang perlu kita dorong dan kembangkan bersama,” pungkasnya.
Dengan potensi pengairan yang tersedia, kawasan persawahan Watang Bacukiki memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh. Terlebih, produktivitas lahan saat ini masih membuka ruang peningkatan menuju target 10 ton per hektare.
Jika pengembangan berjalan secara terarah, kawasan tersebut tidak hanya dapat meningkatkan produksi pertanian di Parepare. Watang Bacukiki juga berpeluang menjadi contoh pengelolaan lahan pertanian berbasis sumber daya lokal di Sulawesi Selatan.
Pada akhirnya, penguatan sektor pertanian membutuhkan kolaborasi dan pengelolaan berkelanjutan. Potensi yang ada perlu diikuti dengan perencanaan, pendampingan, serta evaluasi agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. (MS Journal)
















